Hai Rakyat Kecil, Presiden Datang

Kompas.com - 01/02/2008, 09:06 WIB

KARAWANG, JUMAT-Awal bulan Februari digunakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mendatangi rakyat kecil di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Presiden dengan sejumlah pejabat, datang ke Pasar Baru dan Pabrik Tahu, Tempe, dan Tauge di Karawang.

Di Pasar Baru, meskipun judulnya inspeksi mendadak, ratusan aparat sudah bersiap menyambut kedatangan Presiden Yudhoyono. Pedagang pasar yang sepi dari pembeli karena hujan gerimis juga sudah tahu kalau akan dikunjungi Presiden Yudhoyono. "Kami tahu dari banyaknya aparat yang datang ke pasar semalam. Kami diminta membersihkan kios karena akan ada Presiden datang," ujar Hasan Basri (52), penjual sayur mayur.

Di dalam pasar yang becek, didampingi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Presiden berkeliling dari satu kios ke kios lain. Di kios kelontong, Presiden berhenti untuk bertanya kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan berdialog. Di kios itu, rakyat yang berdiri berkerumun berebutan ingin menyampaikan keluhannya perihal harga-harga kebutuhan pokok yang menggila. "Minyak goreng sama minyak tanah pak. Mahal. Susah belinya," ujar seorang ibu.

Soal keluhan itu, Presiden yang batik birunya basah terpapar gerimis mengusap dahi. Presiden memberi pengertian kenapa minyak tanah dan minyak goren mahal. "Tiap liter minyak tanah, pemerintah membayar Rp 6.000. Tetapi gak papa lah, untuk rakyat. Karena itu, mari kita awasi penyaluranya agar tidak disalahgunakan tidak untuk rakyat," ujarnya.

Di kios sayur mayur, rakyat tidak kalah berani. Di tengah penjelasan Presiden, seorang ibu dengan tas belanjaan berteriak mengenai mahalnya harga sembilan bahan pokok. "Sembako mahal pak," ujarnya. Presiden sepertinya memahami. Sambil menelan ludah, Presiden minta rakyat tenang dulu. "Saya datang untuk mencek. Kita akan usahakan harga-harga sembako stabil," ujar Presiden.

Saat keluar kios pasar, rakyat berbaris di tepi gang-gang pasar. Rakyat berebut ingin memotret Presiden dengan telepon selular dan berebut ingin salaman. Dengan payung merah yang dibawa pasukan pengamanan presiden, Presiden melayani rakyatnya.

Setelah dari pasar, di antara perajin tahu, tempe, dan tauge, Presiden kembali mendapat keluhan soal tingginya harga kedelai. Mulyadi, perajin tahu minta pemerintah bisa melakukan swasembada kedelai agar pemerintah tidak terombang-ambing oleh importir.

Saat ini, Presiden dalam perjalanan menemui petani untuk berdialog soal naiknya harga kebutuhan pokok. Sore nanti di Istana Jakarta, Presiden akan rapat kabinet paripurna menetapkan paket kebijakan stabilisasi harga.(INU)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau