Produsen Biofuel Indonesia Minta UE Tidak Diskriminasi

Kompas.com - 03/02/2008, 17:06 WIB

JAKARTA,MINGGU - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) meminta Komisi Uni Eropa (UE) tidak melakukan diskriminasi antara minyak nabati (biofuel) berbahan baku rapeseed oil (minyak kanola) dengan CPO (minyak sawit mentah) yang banyak diproduksi di Indonesia. "Kami merasa ada diskriminasi antara biofuel berbahan baku minyak kanola dengan sawit," ujar Sekjen APROBI Paulus Tjakrawan seperti dikutip Antara menanggapi rencana Uni Eropa menerapkan parameter tertentu bagi biofuel berbahan baku CPO.

Ia mengatakan tanda-tanda diskriminasi itu tersirat dalam draft Undang-Undang Biofuel UE, yang hanya akan memberi insentif berupa penurunan pajak untuk pemakaian biofuel berbahan baku minyak kanola. Sedangkan biofuel berbahan baku CPO, lanjut dia, dikenakan parameter tertentu yang sulit dipenuhi kalangan produsen biofuel berbasis CPO dari Indonesia. "Mungkin maksudnya baik terkait masalah lingkungan, tapi produksi biofuel yang ada di Indonesia, bahan baku CPOnya bukan berasal dari pembukaan lahan sawit baru, melainkan dari produksi yang sudah ada," katanya.

Namun, UE rencananya akan menerapkan parameter tersebut mulai dari perkebunan sawit, sampai pada pengolahan CPO, dan biofuelnya. Keseluruhan rangkaian produksi biofuel tersebut harus mengikuti parameter green house gas balance"
   
Bahkan, lanjut Paulus, pihaknya juga telah mendengar isu akan adanya parameter baru seperti Water Balance dan O2 Balance. "Kalau kita ikuti semua parameter tersebut membutuhkan dana yang besar, sehingga kelak mendongkrak harga biofuel dari Indonesia. Akibatnya, biofuel kita tidak bisa bersaing di pasar UE," ujarnya.
    
Kalangan produsen biofuel berbasis sawit di Indonesia, lanjut Paulus, kecewa dengan sikap Komisi UE yang memberikan waktu sangat sempit kepada Indonesia bagi swasta maupun pemerintah, untuk menanggapi rancangan undang-undang biofuel UE terkait impor biofuel dari Indonesia. "Namun kami siap untuk membahas kembali hal tersebut," ujarnya.

UE merupakan salah satu negara tujuan ekspor biofuel Indonesia. Menurut Paulus, dari total produksi biofuel Indonesia yang mencapai sekitar 700 ribu ton saat ini, sekitar 95 persen diekspor. UE merupakan negara tujuan ekspor terbesar, karena potensi pasarnya yang tinggi menyusul target penggunaan biofuel di kawasan tersebut sebesar lima persen. Berdasarkan data Oil World Report dan EU Commission pada 2006 permintaan biodiesel di UE mencapai sekitar 5,5 juta ton dan pada 2020 diproyeksikan mencapai 20,2 juta ton. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau