Regional Masih Warnai Bursa Pekan Ini

Kompas.com - 04/02/2008, 06:46 WIB

JAKARTA,SENIN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini masih didominasi faktor regional terkait pengaruh berbagai upaya kebijakan untuk menolong perekonomian Amerika Serikat. Selain itu, pasar juga menanti kebijakan Bank Indonesia soal BI Rate, dalam pertemuan Rapat Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 6 Februari ini.

Pekan lalu pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, mengalami pekan terbaiknya dalam 5 tahun terakhir ini. Indeks Dow Jones industrial average  naik 4,4 persen dan indeks Standard & Poor’s 500   naik 4,9 persen, merupakan pekan terbaik kedua acuan Wall Street tersebut dalam 5 tahun terakhir ini. Sementara Indeks Komposit Nasdaq yang naik 3,8 persen menjadikan pekan ini sebagai pekan terbaik dalam hampir 18 bulan ini.

Dalam perdagangan Jumat (1/1) waktu setempat, Wall Street kembali ditutup naik dengan didorong penawaran Microsotf Corp terhadap Yahoo Inc sebesar 44,6 miliar dollar AS, meski ada berita jumlah penganggur di AS meningkat 17.000 orang pada Januari 2008, yang merupakan penurunan pertumbuhan pasar tenaga kerja yang pertama sejak 2003. Dow Jones industrial average naik 92.83 poin (0,73 persen) ke 12.743,19. indeks Standard & Poor’s 500 naik 16,87 poin (1,22 persen) menjadi 1.395,42. Nasdaq Composite Index meningkat 23,50 poin (0,98 persen) ke 2.413,36.

Minggu lalu Bank Sentral AS, Federal Reserve (the Fed) kembali memangkas suku bunga jangka pendeknya sebesar 50 basis poin menjadi 3 persen, setelah sebelumnya memotong 75 basis poin. Kemudian usulan paket stimulus ekonomi dari Presdein AS George W. Bush sudah disetujui Kongres, DPR AS dan juga Komite keuangan Senat. Pekan ini paket tersebut dijadwalkan akan melalui pembahasan secara menyeluruh oleh Senat.

Dengan kembali turunnya suku bunga fedfund, ada peluang BI mengikuti langkah the Fed yang banyak diikuti oleh bank sentral negara-negara lain tersebut. Namun pemerintah, seperti disuarakan Menteri Perekonomian Boediono, berharap agar BI tidak ikut-ikutan latah untuk menurunkan BI Rate, karena kebijakan suku bunga tidak hanya tergantung dari faktor eksternal tetapi juga faktor internal di dalam negeri terutama menyangkut inflasi.

BI sendiri, seperti ditegaskan Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Made Sukada, akan lebih mencermati faktor inflasi yang saat ini masih tinggi, sedang perubahan level bunga the Fed merupakan salah satu variabel yang dipantau untuk kebijakan moneternya. Inflasi Januari 2008 mencapai 1,77 persen, merupakan inflasi bulanan terbesar dalam 5 tahun terakhir. Tingginya angka inflasi terutama disebabkan kenaikan harga bahan makanan.

Pekan lalu, IHSG naik 26,328 poin (0,99 persen) menjadi 2.646,821, dalam perdagangan yang fluktuatif, dengan didukung dari sektor pertambangan dan perkebunan. Sedang indeks 100 Saham pilihan Kompas (Kompas100) naik 8,371 poin (1,25 persen) ke posisi 667,886. Indeks kelompok 45 saham unggulan LQ45 naik 10,411 (1,82 persen) ke 573,240. Demikian juga Jakarta Islamic Index (JII) yang menguat 4,0674 poin (0,85 persen) jadi 476,969.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau