Sophie dan Moza Selalu Geram pada Perokok Nakal

Kompas.com - 04/02/2008, 12:27 WIB

JAKARTA, SENIN - Merokok membuat seseorang merasakan kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Namun, merokok juga membuat seseorang menanggung kerugian yang tak bisa diukur dengan harta benda.

Oleh karena itu, presenter Sophie Navita dan Moza Pramita, selalu cerewet saat ada rokok di dekatnya. Apalagi jika sang perokok nakal dan tidak mengindahkan aturan. Alhasil Sophie dan Moza selalu dibuat geram oleh ulah perokok tak bertanggung jawab. Pengetahuannya mengenai akibat rokok bagi kesehatan membuat mereka tak segan menegur para perokok nakal.

"Saya pernah tidur di salah satu hotel berbintang di Bandung beberapa waktu lalu bersama suami dan anak-anak. Dari awal saya sudah bilang, saya ingin no smoking floor. Tapi ternyata, kamar depan saya perokok. Saya telepon donk pihak hotelnya, dia atau saya yang keluar. Tapi katanya bisa diatasi. Eh, subuh-subuh pas saya lagi nyusuin, ada bau asap rokok. Dikiranya saya enggak bangun apa? Hidung saya kan sensitif dengan asap rokok," tuturnya kepada Kompas.com saat kampanye antirokok untuk generasi muda bebas kanker di Bundaran HI, Senin (4/1).

Sophie khawatir, asap rokok tersebut dapat mengganggu kesehatan anak-anak dan keluarganya. Tak ayal, jika dia sedang berjalan-jalan bersama sang suami, Pongky Jikustik, dan melewati smoking room, spontan suaminya berkata, "Itu ruangan buat orang yang mau mati."

Kegeraman yang sama juga dirasakan oleh Moza. Presenter cantik ini berpendapat rokok sudah membuat perokok kehilangan akal sehatnya. Sebab, lanjutnya, tak jarang perokok merokok di tempat umum dan tempat yang terdapat larangan merokok.

"Mama saya pernah berkunjung ke sebuah daerah. Di sana para pejabatnya pada merokok di dalam ruangan bebas merokok. Bayangkan di lift pun mereka merokok, dan apa yang didapati mama saya? Sang bupati pun ikut merokok dalam ruangan tersebut! Saya enggak habis pikir. Kalau mereka ke Singapura, mendadak berubah menjadi orang yang sangat disiplin. Tapi begitu kembali, mereka kembali merokok. Otak mereka sepertinya sudah dirusak oleh rokok," katanya berapi-api.

Menurut Sophie dan Moza, ini merupakan salah satu bagian dari sebuah industri besar di Indonesia, yaitu industri rokok. Namun, rantai ini bisa diputus dari pasarnya. Jika pangsa pasar mereka ditekan sampai ke batas bawah, lanjut Moza,permasalahan ini dapat teratasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau