Luapan Bengawan Solo di Lamongan Dampak Tanggul Widang

Kompas.com - 04/02/2008, 16:38 WIB

LAMONGAN, SENIN– Luapan Bengawan Solo yang kembali melanda wilayah Kecamatan Laren dan Sukodadi Kabupaten Lamongan sejak Sabtu merupakan dampak proyek bendungan tanggul Bengawan Solo di Desa Tegalrejo Kecamatan Widang Kabupaten Tuban belum selesai. Akibatnya delapan Desa Di Kecamatan Laren, 657 rumah dan 1.290 meter jalan desa tergenang.

Sekretaris I Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Lamongan Imam Trisno Edy Mengatakan, air mulai masuk sejak Jumat malam akibat air Bengawan Solo terus naik sementara tanggung di Widan Tuban belum selesai diperbaiki. Luapan Bengawan Solo mengakibatkan 36 rumah di Desa Durikulon terendam rata-rata 20 cm tetapi tidak ada yang mengungsi.

Di Desa Centini 350 rumah tergenang air dengan ketinggian rata-rata 40 cm sehingga 15 keluarga membuat tenda pengungsian di tanggul-tanggul sebagai persiapan jika air terus naik selebihnya masih bertahan di rumah masing-masing. SD Negeri Centini SMP negeri 2 Laren dan SMU Nahdlatul Ulama Laren terendam air setinggi 40 cm.

Sebanyak enam rumah di Desa Keduyung terendam dengan ketingian rata-rata 15 cm dan 30 meter jalan desa terendam. Di Desa Jabung 60 rumah tergenang setingi 20 cm dan jalan desa sepanjang 10 meter tergenang. Di Desa Dating 120 rumah terendam dengan ketinggian 30 cm dan 100 meter jalan desa tergenang. Di Desa Gelap 50 rumah terendam air setinggi 40 cm, di Desa Siser 30 rumah dan 400 meter jalan desa terendam 15 cm. Sementara 15 rumah dan 450 meter jalan di Desa Bulutigo terendam 15 cm.

Luapan air Bengawan Solo juga mengakibatkan Tangkis Mengkuli di Desa Gedangan Kecamatan jebol sepanjang 20 meter. Luapan terjadi pada Rabu (30/1) pukul 19.00 mengakibatkan genangan setinggi 50 cm, dan air masuk hingga ruang kelas SD Negeri Gedangan serta TK Nurul Huda. "Namun sana air cepat turun drastis," kata Imam.

Sampai saat ini Satlak Penanggulangan Bencana Amongan telah menyalurkan 600 glangsing, 20 gedeg bambu dan 5 kilogram kawat untuk menutup jebolnya Tanggul Mengkuli. "Posisi air Bengawan Solo sudah mulai surut dan air yang menggenangi rumah penduduk sudah mulai turun ke Bengawan Solo lewat pintu air yang ada di Desa Pelangwot Kecamatan Laren," jelas Imam.


Pada Senin hingga pukul 09.00 WIB ketinggian air pada papan duga ketinggian air di Desa Pelangwot turun dari 3,95 menjadi 3,92 atau turun dari Siaga I. Namun patut diwaspadai karena ketinggian air di Karangnongko Ngraho Bojonegoro naik lagi dari 25,18 menjadi 25,22 Pheil Schall. Di Bojonegoro Kota juga naik dari 10,72 menjadi 11,30.

Air di Bengawan Solo di Pelangwot Kecamatan Laren terus mengalami penurunan. Namun dengan tetap tingginya air di Karangnongko dan Bojonegoro masyarakat harus tetap mewaspadai meluapnya air."Tangggul di Desa Tegalrejo, Kecamatan widang Kabupaten Tuban belum selesai dikerjakan bila air datang lagi bisa menggenangi lagi wilayah Laren dan Sukodadi," kata Imam.(ACI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau