DIMONA, SELASA - Seorang pria Palestina meledakkan dirinya dekat reaktor nuklir Israel. Aksi ini menewaskan seorang perempuan Israel dan melukai 11 orang lainnya.
Serangan bom bunuh diri pertama di Israel selama 2008 ini terjadi Senin (4/2) atau Selasa (5/2) waktu Indonesia. Polisi membunuh pengebom kedua setelah seorang dokter merawat korban luka yang mengenakan rompi bom.
Serangan itu memicu ketakutan Israel bahwa para militan Gaza bakal memanfaatkan perbatasan dengan Mesir untuk menyusup ke Israel. Hal ini setelah kelompok militan mengakui kedua pengebom itu masuk Israel melalui pagar yang bolong-bolong sekitar 35 kilometer dari Dimona. Disebutkan juga sejumlah anggota militan sudah berada di dalam Israel dan berancang-ancang menyerang.
Abu Fouad, juru bicara Brigade Martir Al Aqsa, sayap militer Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas menjelaskan para penyerang, salah satunya bernama Luay Laghwani (22), masuk ke Mesir lewat pagar yang bolong itu. Mereka lalu menyeberang ke Israel menggunakan kontak khusus. Fouad mengaku, sejumlah militan sudah berada di Israel dan siap menyerang. Ia juga menjelaskan aksi itu di luar kendali Abbas.
Di Gaza, sejumlah pria nemembakkan senjatanya ke udara dan keluarga pengebom membagikan permen untuk merayakan serangan itu. Selembar bendera Fatah berwarna kuning berkibar di depan rumah Laghwani.
Dari markasnya di Tepi Barat, Abbas melontarkan kutukan atas serangan itu. Sedangkan pejabat Israel menegaskan akan melanjutkan perundingan damai, namun menegaskan akan melanjutkan aksi militer di Gaza yang dikuasai Hamas. Benar saja, hanya beberapa jam setelah serangan sebuah pesawat tempur Israel menyerang Gaza dan menewaskan seorang militan senior yang dianggap terlibat dalam serangan roket.
Berbicara di depan parlemen, PM Israel Ehud Olmert mengatakan Israel sedang menghadapi perang terus menerus dengan militan di Gaza. "Perang ini akan berlanjut. Terorisme akan dihantam. Kita tidak akan menyerah," katanya.
Bom bunuh diri itu merupakan yang pertama selama 2008 di Dimona, kota berpenduduk 37.000 jiwa di gurun Negev. Serangan itu terjadi di sebuah pusat perbelanjaan, 6 km dari sebuah reaktor nuklir.
Pejabat Israel membantah serangan itu ditujukan ke reaktor itu. Reaktor yang diduga memproduksi senjata nuklir itu mendapat penjagaan maksimum, dikurung pagar kawat berduri setinggi 3 meter. Reaktor itu juga dipisahkan dari publik sejauh 2,4 km.
Ledakan bom itu membuat sebuah toko porak-poranda. Serpihan daging manusia, robekan baju dan sandal beterbangan. Bercak darah menempel di tembok hingga setinggi 6 meter.
"Ada ledakan besar dan sebuah bola api menerpa saya," tutur David Dahan (58), korban luka . Dahan baru saja menghabiskan kopinya di sebuah kafe saat bom itu meledak sekitar 2 meter dari posisinya.
"Saya melihatnya (pengebom) jatuh. Saya kena, tapi saya bertahan pada tongkat penyangga saya. Baju saya berlumuran dagingnya," kata Dahlan yang dirawat di sebuah rumah sakit di kota Beersheba.
Pengebom kedua ditemukan dr Baruch Mandelzweig. Saat itu ia merawat seorang pria yang luka parah dengan kepala yang terus bergerak-gerak di trotoar. Ia pun merobek kemeja pria untuk merawatnya. "Kami melihat rompi bom. Lalu kami semua lari," kata Mandelzweig.
Lalu Kobi Mor, petugas polisi, mendatangi tempat itu ketika melihat tangan si pria yang rompi bomnya terlihat. "Saat melihat dia menggerakkan tangan, saya tembak tangannya. Sekitar dua menit kemudian tangannya terangkat lagi menuju rompinya, lalu saya berlutut dan tembakkan empat peluru ke kepalanya," kata Mor. Televisi Israel berkali-kali menayangkan aksi Mor itu. Polisi itu pun sontak mendapat sebutan pahlawan dan dianugerahi piagam dan promosi pangkat karena keberaniannya.(AFP)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang