JAKARTA, KCM - Menjelang Hari Raya Imlek, lampion dan pakaian shanghai (chongsam) laku keras. Beberapa pedagang di Glodok City, dan Glodok Pancoran kehabisan stok penjualan. Lakunya pernak-pernik Imlek ini, ungkap pedagang, terjadi sejak sebulan terakhir.
Yuni, 34, salah satu pedagang pernak-pernik Imlek di Glodok City, Jakarta, mengatakan, dalam dua minggu terakhir ini omzet penjualannya naik sekitar 30 persen dibanding hari biasa. Bahkan, pakaian shanghai pria yang dijualnya telah habis stoknya pada Selasa (5/2). Pakaian shanghai pria yang dijual ibu dua anak tersebut rata-rata seharga Rp 200.000.
"Omzetnya naik sekitar 30 persen. Kebanyakan pelanggan ambil (beli) pakaian shanghai, baik untuk pria maupun wanita. Stok untuk pria habis, sementara untuk wanita masih ada," kata Yuni.
Selain pakaian shanghai, lampion juga laris manis sejak satu bulan terakhir. Hal itu diakui A Fung, salah satu pemilik toko yang menjual pernak-pernik Imlek di daerah Glodok Pancoran, Jakarta. Lampion yang menjadi pilihan utama warga yang merayakan imlek umumnya yang berukuran besar mulai dari 12 inchi hingga 22 inchi.
Pada lampion-lampion tersebut tertulis beberapa ungkapan dari bahasa China yang pada intinya meminta berkah pada hari raya Imlek dan ucapan rasa syukur.
"Yang paling laris, ukuran 12 inchi. Biasanya orang beli sepasang. Peminatnya banyak karena itu (lampion) dianggap membawa keberuntungan bagi pemiliknya," kata A Fung.
Perayaan Imlek kali ini membawa keberuntungan tersendiri bagi A Fung. Dalam sebulan terakhir ia memperoleh omzet penjualan mencapai sepuluh juta perhari. Dalam sehari, ratusan lampionnya habis terjual.
Selain membeli lampion, benda-benda lain yang juga menjadi favorit pembeli yakni bunga meihua, baik yang berwarna merah muda maupun merah tua, patung tikus, dan patung Dewa Chaisen Lauye. Patung dewa ini dianggap sebagai simbol keberuntungan.
Pembeli dari luar Jakarta
Pecinta pernak-pernik Imlek rupanya tidak cuma berasal dari Jakarta. Banyak warga luar Jakarta yang memesan ataupun membeli pernak-pernik Imlek. Bahkan, turis mancanegara pun tidak ketinggalan. Sebagian di antaranya sengaja membeli sebagai kenangan-kenangan atau karena merasa senang dengan barang-barang tertentu.
"Pelanggan saya lumayan banyak. Ada dari Makasar, Bandung, dan juga Medan. Bahkan ada warga Autralia yang membeli patung di sini sebagai kenang-kenangan," kata Yuni.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang