Orangutan Sumatera di Langkat Terancam Punah

Kompas.com - 05/02/2008, 22:02 WIB

MEDAN, SELASA - Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dikhawatirkan mengalami kepunahan, akibat kondisi hutan tempat bermukim satwa langka itu dirusak oleh aksi pembalakan liar.

Direktur Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Sofyan Tan di Medan, Selasa (5/2), mengatakan, orangutan Sumatera yang bermukim di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Langkat setiap tahunnya terus berkurang hingga yang total sudah mencapai 500 ekor.

"Tahun 2006 orangutan di kawasan TNGL perbatasan Langkat dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) masih ada sekitar 7.000 ekor, tapi tahun 2007 hanya tinggal 6.500 ekor lagi. Kekurangan tersebut sangat memprihatinkan, mengingat satwa tersebut dilindungi oleh undang-undang," katanya.

Sehubungan dengan itu, ia meminta kepada pemerintah agar dapat menjaga kelestarian, tidak sembarangan mengeluarkan izin kepada pengusaha maupun oknum tertentu untuk mengelola kawasan hutan karena sangat berpengaruh terhadap kelestarian orangutan tersebut.

"Kalau pemerintah terus-terusan mengeluarkan izin maka akan semakin memperparah kerusakan hutan dan populasi orangutan juga terancam punah," ujarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan, selain kerusakan hutan yang semakin meluas, populasi hewan ini juga jauh berkurang.

Bahkan, orang utan tersebut juga ada yang diburu sekelompok suku yang tinggal di sekitar hutan untuk dikonsumsi sebagai sumber protein hewani.

"Jadi perburuan terhadap hewan primata ini cukup tinggi dan pembukaan lahan juga sudah sangat mengkhawatirkan, karena berpengaruh pada kelangsungan hidup hewan tersebut," katanya.

Ia juga mengatakan, orangutan ini juga banyak diburu untuk dipelihara oleh masyarakat terutama oknum aparat yang memanfaatkan situasi konflik yang terjadi di Aceh beberapa tahun yang lalu.

Dalam mengatasi persoalan ini, kata dia, pihaknya telah berupaya melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk mengembalikan orangutan tersebut kehabitatnya.

"Namun upaya itu selalu mendapat kendala karena pada umumnya orangutan dipelihara oleh oknum aparat dan pengusaha," katanya.(ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau