TUBAN, KAMIS - Warga Desa Simorejo dan Tegalrejo Kecamatan Widang Kabupatan Tuban kembali terkena banjir luapan Bengawan Solo ketiga kalinya pada tahun ini. Warga sangat membutuhkan bantuan pangan dari pihak luar, Bengawan Solo meluap lagi lagi sejak Rabu (6/2) malam.
Menurut Kepala Desa Simorejo, Mashud, Kamis (7/2), dampak dari banjir akhir tahun lalu saja belum pulih. Warga belum bisa bekerja untuk bisa mendapatkan penghasilan tetapi sudah diterjang banjir lagi pada Jumat (1/2) lalu.
Genangan air pada Selasa (5/2) sudah surut, Rabu lalu datang lagi luapan Bengawan Solo. Hal tersebut membuat warga kesulitan bahan pangan, panenan dari sawah yang diandalkan terendam banjir. “Kami berharap ada pihak luar yang memahami kesulitan kami,” kata Mashudi.
Menurut dia pangkal persoalan banjir susulan ini adalah belum diperbaikinya tanggul jebol di Desa Simorejo. Selagi tanggul itu belum selesai diperbaiki dan tidak tuntas secepatnya, begitu air sungai meluap dipastikan warga kebanjiran.
Belum beresnya tanggul bukan saja berdampak pada warga Wimorejo dan Tegalrejo Kecamatan Widang Kabupaten Tuban. Tetapi juga berimbas pada warga desa Desa Centini, Guyangan, Siser, Bulutigo dan desa lainnya yang juga dilanda banjir.
“Perbaikan tanggul di Widang itu mutlak dilakukan secepatnya. Selama belum diperbaiki sekolah kami akan tetap kebanjiran bila air sungai naik,” kata Irham, Kepala SMP Negeri 2 Laren yang terletak di Desa Centhini Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan.
Banjir bukan saja meninggalkan kepedihan bagi para warga dewasa, tetapi juga anak-anak yang seharusnya bisa belajar dengan tenang di sekolah harus belajar bersama di masjid. Kelas darurat pun dilakukan dari berbagai tingkat, ada yang kelas I hingga kelas III digabung ada yang kelas IV-VI yang digabung.
Relawan dari mahasiswa Universitas Airlangga turut membantu mengisi materi. Salah seorang relawan, Fifin Yuliani mengatakan anak-anak butuh keceriaan, dan pemulihan kondisi psikolgisnya akibat banjir. “Yang terpenting membangkitkan mereka tetap semangat belajar, tidak larut bersedih karena banjir,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang