Balada Lian Han Ciong di Klenteng Petak Sembilan

Kompas.com - 07/02/2008, 21:58 WIB

JAKARTA, KAMIS - Tak hanya ratusan pengemis yang 'ngalap' berkah di Tahun Baru Imlek. Lian Han Ciong (28) juga mengadu peruntungannya selama dua hari ini. Warga Tionghoa Muslim ini, menyediakan tempat yang menawarkan jasa pembakaran hio (Cek Tai)  di salah satu sudut Wihara Dharma Bakti, Kompleks Petak 9, Glodok, Jakarta Barat, Kamis (7/2).

Biasanya, setiap umat yang akan bersembahyang membakar 40 batang hio kecil (Hio Pai Pai) dan 3 batang hio besar (Hio Tua Pai). Dan ternyata, bukan perkara mudah untuk membakarnya. Untuk itulah, Lian dan 6 orang rekannya ada.

Bukan dalam hitungan setahun-dua tahun, Hans, begitu ia disapa, memulai pengembaraannya di klenteng ini. Baru 4 tahun terakhir, ia melepaskan diri dari pengabdiannya di wihara, dan memulai mandiri dengan membuka usaha pembuatan lilin dan hio kecil-kecilan.

"Sebelumnya, ada sekitar 5 tahun lah gue kerja disini. Jadi macem-macem, bantuin bakarin lilin, sampe tukang angkut. Terus gue buka usaha, bikin lilin ama hio. Sekarang, kalo pas Imlek ama Ciet Cap Go (perayaan bulan purnama), gue usaha gini ini tempat bakar hio, lumayanlah rezekinya," tutur lulusan Sarjana Ekonomi sebuah universitas swasta ini.

Mulai pukul 7 malam, Rabu (6/2) hingga siang tadi saja, ia telah mengantongi lebih dari Rp 1,5 juta. Tak heran, karena ada ribuan umat yang menggunakan jasanya. Seribu, dua ribu, lima ribu, mampir di kantong kresek hitam yang disediakan Hans. Kadangkala, ada pula yang tak memberi. Uang itu, kata Hans, sebagian besar ia bagi-bagikan bagi kaum yang belum beruntung. Selebihnya, ia tabung untuk modal usaha.

"Gue udah terbiasa aja disini, dari kecil ini lingkungan gue. Biarpun gue udah Muslim, bukan berarti gue terus nggak mau ke sini (klenteng-Red). Masalah keyakinan kan masalah hati. Toh, gue cuma membantu dan memang rezeki gue ada disini," tambahnya.

Setiap bulannya Hans selalu menyediakan stok lilin dan hio untuk keperluan sembahyang di Klenteng Petak Sembilan. Jumlahnya tak tanggung-tanggung. Saat Ceit Cap Go setiap tanggal 1 dan 15 bulan China, ia menyetok hio hingga 15 ton. Sedangkan lilin, mencapai 2 ton.

Sisa-sisa bakaran lilin, ia beli lagi seharga Rp 2.500 per kilonya. Setelah itu, ia produksi kembali. Dari usahanya ini, Hans telah mempekerjakan 72 karyawan. "Tapi setiap acara-acara gini, gue pasti turun. Karyawan gue pada libur. Ibarat kata, udah hobi," katanya.

Diluar Ceit Cap Go, Hans menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bertirakat di Masjid Agung Cirebon. Ia bertekad, memperdalam pengetahuan mengenai agama yang baru dipeluknya selama kurang dari setahun itu. Namun bagi Hans, perbedaan keyakinan itu tak membuatnya lepas dari komunitas yang telah mendarah daging baginya.

"Agama kan masalah keyakinan. Kalau ini wujud kecintaan gue dengan lingkungan, tadi juga ketemu dengan tante gue. Dia ngundang ke rumah ada kumpul-kumpul keluarga. Gue tetep senang saat kaya gini," ujar pemilik nama Wahyu Candra ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau