Imlek di Surabaya: Kearifan Tradisi, Kejelian Pengusaha

Kompas.com - 08/02/2008, 01:12 WIB

SURABAYA, KAMIS -  Minggu (3.2) siang itu Grand Ballroom Sheraton Surabaya Hotel and Towers riuh oleh suara para balerina. Mereka sedang melakukan gladi bersih untuk pentas The Pharaoh’s Daughter (La Fille Du Pharaoh) pada malam harinya.

Ekawati Loekito BA ARAD RAD RTS, pemilik dan guru balet Center Point Dance Studio, memberikan arahan pada balerina yang melakukan kesalahan dari sisi panggung. Di sela-sela gladi bersih, ponselnya terus berdering. Sekilas terdengar percakapannya dengan orang di seberang. Tentang persiapan pementasan balet, urusan rumah, hingga topik seputar Imlek. Ibu dua anak itu berencana melakukan santap malam bersama keluarga pada perayaan malam Tahun Baru Imlek, 6 Februari 2008.

“Wah, mamaku udah pesen sejak kapan hari. ‘Pokoke kumpul ya setengah tujuh malam di Imperial Ballroom’,” kata Ekawati meniru ucapan ibunya, penari balet senior Surabaya Mande Tjendrawati.

Imperial Ballroom adalah bagian usaha Pakuwon Golf & Family Club. Letaknya di Surabaya Barat, bersebelahan dengan Supermal Pakuwon Mall dan real estate Citra Raya. Gedung ini tempat bersosialisasi kaum high ends Surabaya, sebuah simbol kemapanan.

Makan malam bersama jelang Tahun Baru Imlek atau Sin Tjia ini sudah menjadi tradisi keluarga Loekito. Mereka sangat menghargai momen ini. Sebab, inilah kesempatan bertemu dengan seluruh anggota keluarga.
Sebenarnya, keluarga Loekito tidak selalu merayakan malam Tahun Baru Imlek di restoran atau hotel. Sesekali mereka makan bersama di rumah.

Khusus untuk Imlek 2008 ini, mereka makan malam bersama di Imperial Ballroom. Tak tanggung-tanggung, 10 meja sudah dipesan tiga minggu sebelumnya. “Keluarga mama keluarga besar. Ada delapan anak. Belum orangtua, cucu, menantu, dan cicit. Boleh dibilang 30-an orang ada deh,” ungkap Ekawati tersenyum.

Sehari berikutnya, 7 Februari 2008, Ekawati pmnya jadwal santap malam bersama dengan pihak keluarga ayah, Sanjaya Loekito. Kali ini, pilihan jatuh di Shang Palace, restoran Chinese Hotel Shangri-La Surabaya. Dua minggu sebelumnya, Sanjaya sudah memesan lima meja khusus untuk keluarganya.

 “Iki riyoyoane orang Tionghoa (Ini Hari 'Lebaran'-nya warga Tionghoa),” seloroh Ekawati. Namun, Imlek 2559 ini tidak bertepatan dengan waktu liburan atau masa cuti keluarganya yang tinggal di luar negeri. Kerabatnya yang tinggal di New York dan Los Angeles, Amerika Serikat, tak bisa datang.

Kearifan tradisi, kejelian pengusaha

Tidak seperti kebanyakan orang Tionghoa, sembahyang bersama di keluarga Loekito bukan rangkaian acara yang harus diikuti. Sebab, kecuali Mande yang memeluk Buddha, mereka penganut Kristen yang tidak harus menjalani acara sembahyang bersama itu. Didampingi Ekawati, Mande biasanya bersembahyang di Kelenteng Hong Tek Hian Kampung Dukuh, Surabaya.

Berdoa di kelenteng untuk pengharapan kehidupan yang lebih baik di tahun baru hanya dilakukan orang Tionghoa beragama Buddha atau Kong Hu Cu saja. “Paling penting dalam perayaan Imlek adalah bertemu dengan kerabat. Karena kesibukan sehari-hari biasanya kami tidak sempat bertemu,” tutur Ekawati. Maka, acara makan malam sebisa mungkin tidak dilewatkan.

Kesempatan ini pun dimanfaatkan hotel dan restoran di Surabaya dengan baik. Berbagai menu khusus dibuat. Pada perayaan Tahun Baru Imlek 2559, Imperial Ballroom membuat gawe besar. Berbiaya Rp 1 miliar, Viva China 2008 menampilkan pertunjukan kolosal didukung 100 penari. Dibantu teknologi digital, setting panggung tampak megah.

Alamsyah Jo, Club Director Pakuwon Golf & Family Club, sekaligus perancang acara melengkapi malam penuh berkah itu dengan hidangan khas Imlek. Yee Sang, Hoisom, Abalon, dan Sarang Burung Walet menjadi masakan utama Menu Prosperity seharga Rp 8.888.000 dan Menu Imperial seharga Rp 7.888.000.

“Yee Sang atau salad segar berisi ikan menjadi makanan utama saat Imlek di Tiongkok. Menu ini belum tren bagi orang Tionghoa di Surabaya,” ujar Alamsyah.

Yee Sang adalah hidangan pembuka terdiri atas irisan tipis daging ikan salmon, tuna atau ubur-ubur. Sebelum dimakan, daging ikan dicampur dengan sayuran seperti bunga lotus, irisan wortel, dan lobak serta berbagai saus. 

Saat mengaduk, sumpit diangkat tinggi-tinggi sambil berteriak "Luo Hwei". Artinya kesejahteraan, umur panjang dan rezeki. Semacam doa di malam Tahun Baru Imlek. “Orang Surabaya belum terbiasa dengan teriakan "Luo Hwei". Sekarang ini kami coba memperkenalkan,” imbuh Alamsyah.

Yee Sang, Hoisom, Abalon, dan Sarang Burung Walet juga menjadi menu istimewa di Shang Palace Hotel Shangri-La Surabaya, Tang Palace Hotel JW Marriott Surabaya dan Restoran Lung Yuan di Sheraton Surabaya Hotel and Towers. Dihidangkan bersama makanan kecil seperti dim sum, manisan, dan kue keranjang (nian gao).

Nama menu di restoran-restoran tersebut disesuaikan dengan harapan-harapan pada tahun baru Imlek. Shang Palace misalnya, menawarkan empat macam set menu. Yakni Great Prosperity (kesuksesan dalam hidup), Rich Fortune (kaya akan keberuntungan), Wealth Treasure (kesehatan) dan Heavenly Blessing (selalu mendapatkan berkah).

Melengkapi meriahnya suasana perayaan , pihak hotel juga menampilkan barongsai. Di negeri asal, Tiongkok, barongsai dipercaya sebagai hewan kesayangan dewa. Barongsai di sana juga tidak punya mata. Sebab itu pula, barongsai joget kesana kemari yang diterjemahkan sebagai gerak tari hingga saat ini.

Nah, kalau di Tiongkok dan Singapura, pada perayaan Imlek, pemimpin tertinggi setingkat General Manager akan memberi mata pada barongsainya,” terang Wike Trisnandhini, Manager Marketing Communication Hotel JW Marriott, Selasa (5/2).

Berdasar kisah kuno Tionghoa, dewa merasa kasihan kepada si barongsai sehingga memberinya dua mata. Tradisi ini tidak dilakukan di Surabaya. Sebab, tidak banyak orang yang cukup akrab dengan dongeng ini. Termasuk menyantap Yee Sang dan meneriakkan ‘Luo Hwei’.

Menurut Wike, tidak semua orang Surabaya suka Yee Sang. Berbeda dengan orang Tionghoa di Singapura, Tiongkok (China), dan Jakarta. “Tradisi Imlek di Surabaya sudah terkontaminasi dengan budaya lokal,” kata Wike.
Meski demikian, meja restoran tetap menjadi rebutan jelang perayaan Imlek. Tang Palace Hotel JW Marriott menargetkan 55 dari 60 mejanya terisi. Mendekati hari H, seluruh meja sudah dipesan.

Pesta Imlek di Tang Palace juga dihadiri Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Fu Shuigen. Seremonial khusus digelar bersama dengan teriakan Luo Hwei yang dipimpin Sky Lee, Chinese Chef Hotel JW Marriott Surabaya.

Tidak berbeda jauh dengan Restoran Lung Yuan di Hotel Sheraton Surabaya dan Shang Palace Hotel Shangri-La Surabaya. Meja-meja makan sudah banyak dipesan. Semua ingin menikmati makanan istimewa.

Santap bersama di rumah

Namun, makan santap bersama di dalam keluarga pun tetap menjadi pilihan sebagian warga. Keluarga Anthony Utomo, General Manager PT Balai Lelang Tunjungan misalnya. Mereka absen makan di hotel dan memilih masak sendiri di rumah.

Menu makanan khusus Imlek yang dibuat juga tak kalah dengan menu restoran hotel. Yee Sang, sirip ikan hiu, dan sarang burung walet tetap jadi andalan. “Bukan menu makanan yang paling penting pada perayaan Imlek. Tapi, tetap kuatnya nilai-nilai kekeluargaan yang ada di antara kami,” tegas Anthony.

Diakuinya, tradisi ini sudah mulai luntur di kalangan muda Tionghoa. Untungnya, sejak kecil Anthony sudah dibiasakan ayahnya, Darmawan Utomo, untuk hadir saat makan malam bersama keluarga jelang Tahun Baru Imlek. Jadi, hari untuk menghormati leluhur dan dewa ini sepatutnya tetap dijaga.

“Kecuali terbentur jadwal kuliah,” ucap Anthony. Adiknya, Franky Utomo, yang sedang kuliah di Seattle, Amerika Serikat, terpaksa tidak pulang tahun ini. Jadwal libur kuliahnya tidak bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2559. Jauh dekat, tidak masalah bagi mereka. Toh kebahagiaan menyambut Imlek tetap dapat dilakukan dimana saja. (SURYA/ MARTA NURFAIDAH/AHMAD ZAINUL HAQ)   

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau