Penyebaran AIDS di Indonesia Tergolong Rendah

Kompas.com - 08/02/2008, 13:38 WIB

JAKARTA, JUMAT-Penularan penyakit AIDS di Indonesia sampai saat ini tidak memberi dampak pada rencana pembangunan pemerintah secara nasional. Hal ini dikatakan Dr. Nafsiah Mboi, sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPA) dalam jumpa pers, Jumat (8/2), di Kantor PBB, Jakarta.

Menurut Mboi, saat ini KPA mencatat jumlah pasien AIDS di Indonesia yang terdaftar sebanyak 17.000 orang. Sementara yang belum terdaftar, diperkirakan berjumlah 193 sampai 200 ribu orang. Jumlah ini, kata dia, tidak membawa dampak signifikan karena banyaknya penduduk Indonesia, yang berjumlah total 206.264.595 orang berdasarkan data Badan Pusat Statistik terkini.

Rendahnya penyebaran wabah AIDS di Indonesia ini telah menarik perhatian Dr. Nafis Sadik, utusan khusus PBB untuk HIV/AIDS di Asia Pasifik. Selama 5 hari, dia memantau program-program yang telah dilaksanakan KPA untuk menekan penyebaran AIDS sampai level terendah.

“Penyebaran AIDS di Indonesia tergolong sangat rendah. Inilah yang kita inginkan. Sampai saat ini, kita tidak mempunyai penyembuhan atau vaksin untuk melawan AIDS. Orang yang tertular penyakit ini harus terus mengonsumsi obat-obatan dan  mendapatkan nutrisi cukup untuk memperpanjang usia hidupnya. Ini sangat mahal untuk dilakukan. Oleh karena itu, cara terbaik adalah mencegah penyebarannya,” kata Sadik.

Sadik optimis akan langkah-langkah yang telah dilakukan KPA selama ini. “Saya melihat Indonesia sekarang telah bertumbuh dan lebih dinamis. KPA telah menunjukkan usaha yang baik. Semua dilakukan sesuai dengan standar internasional. Mereka juga paham betul apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan,” katanya.

Berdasarkan hasil pertemuannya dengan berbagai elemen masyarakat yang terlibat dalam penanggulangan AIDS di Indonesia, Sadik juga mencatat Propinsi Papua sebagai daerah yang perlu mendapat perhatian lebih, karena rendahnya pendidikan AIDS disana, diperparah dengan lokasi yang sulit dicapai.

“70 persen populasi di Papua belum pernah mendengar tentang AIDS. KPA perlu lebih gencar melakukan aksinya disana. Dukungan politik juga perlu diperkuat dalam rangka aksinya di tingkat nasional,” ujarnya.(C3-08)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau