JAKARTA, JUMAT - Agar peristiwa kerusuhan antar pendukung tak terulang lagi, apalagi yang menimbulkan jatuh korban tewas di partai final Kompetisi Liga Djarum Indonesia, pihak keamanan di Stadion Jalak Harupat Soreang Bandung hendaknya meniru cara preventif yang dilakukan petugas keamanan di Sidoarjo saat menggelar babak Delapan Besar lalu.
Wakil Ketua Komdis PSSI, Bernhard Limbong mengatakan bahwa penjagaan yang dilakukan aparat keamanan di Stadion Delta Sidoarjo lalu sudah memenuhi standar keamanan stadion saat menggelar pertandingan sepakbola.
"Harusnya para keamanan di mana pun saat menggelar pertandingan sepakbola terutama di kompetisi Liga Indonesia bisa menerapkan standar penjagaan yang sama," ungkapnya di Sekretariat PSSI, Jumat (8/2).
Rusuh yang menyebabkan tewasnya seorang pendukung Persija Jakarta di babak semifinal yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno hari Rabu lalu akibat manajemen keamanan yang kurang rapih.
"Itu hanya masalah menajemen keamanan penjagaan saja, coba kalau mereka menerapkan standar manajemen saya rasa tidak akan terjadi itu jatuh korban, apalagi hingga hilang nyawa orang," tuturnya.
Sistem penjagaan di Sidoarjo pun diakui oleh Limbong yang berpangkat Kolonel TNI AD ini sudah memenuhi standar keamanan yang baik. "Manajemen keamanan di Sidoarjo harus diterapkan pula di Stadion Jalak Harupat tempat pergelaran babak final nanti," katanya.
Standar keamanan yang baik diakuinya, seperti yang dilihat di Sidoarjo adalah menempatkan beberapa personel keamanan di setiap sudut yang dinilai rawan terjadi bentrok.
"Jadi tidak seperti di Stadion Utama lalu, dimana keamanan yang jumlahnya dua ribuan itu hanya terkonsenstrasi di satu titik saja, ini masalah manajemen saja," paparnya. (Persda Network/Antonius Bramantyo)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang