JAKARTA, SABTU - Kader-kader Golkar belum ada yang mempunyai pengaruh yang kuat untuk mencapai nomor satu dalam pemilu 2009, sehingga Partai Golkar akan berkoalisi hanya untuk nomor dua. “Walaupun kita menang pada pemilu, tetapi kader-kader golkar belum ada yang cukup kuat untuk jadi nomor satu, kita barangkali akan koalisi untuk nomor dua," kata Wakil Sekjen Partai Golkar, Syamsul Mu’arif, dalam acara Dialog Politik yang bertemakan “Peta Politik Masa Kini & Perspektif Pemilu &Pilpres 2009”, di Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat Wira Karya Indonesia, Sabtu (9/2) siang.
Sesuai dengan kebijakan aturan, Partai Golkar akan mengukur dahulu kepercayaan rakyat terhadap partai ini. Jika rakyat sudah memberikan kepercayaan yang layak, barulah Golkar berpikir untuk mencalonkan presiden dalam pemilu 2009.
“Yang dianggap layak, jika kami berada di posisi putaran nomor satu atau pada posisi nomor dua dalam pemilu yang akan datang," ujar mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Gotong Royong ini.
Tentang kemungkinan penetapan calon presiden dari Partai Golkar berdasarkan hasil survei, Syamsul mengatakan bahwa survei akan dilakukan dalam empat tahapan, yakni enam bulan sebelum pemilu, tiga bulan menjelang pemilu, pada saat pemilu, dan sesudah pemilu.
Menurut Syamsul, dalam survei ini juga akan dilihat seberapa besar naik turunnya kurva dukungan terhadap Capres dan Cawapres. “Kita akan perbandingkan bagaimana kurva naik turunnya dukungan terhadap seseorang," ujarnya.
Survei pun, tambah Syamsul, bukan hanya dilakukan dalam satu partai saja tetapi di beberapa lembaga. Survei yang dilakukan bukan hanya ditujukan untuk partai Golkar, tetapi untuk tokoh–tokoh nasional yang mempunyai potensi menjadi calon presiden. (C1-08)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang