Lambang Babar Purnomo Berpulang

Kompas.com - 09/02/2008, 18:22 WIB

SOLO, SABTU – Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah atau BP3 Jateng dan masyarakat kehilangan seorang ahli purbakala yang handal, menyusul meninggalnya Ketua Kelompok Kerja Perlindungan BP3 Jateng, Lambang Babar Purnomo, Sabtu (9/2).

Lambang bukan hanya menangani penemuan-penemuan benda purbakala, tetapi juga menyelidiki dan melaporkan kasus-kasus pencurian benda-benda cagar budaya termasuk kasus pencurian arca koleksi Museum Radya Pustaka Solo. “Kami sangat kehilangan,” ujar Ketua BP3 Jateng Tri Hatmadji ketika dihubungi Sabtu petang.

Tri mengaku sangat terkejut mendengarkan kabar meninggalnya Lambang. Pasalnya, Lambang bersama rombongan BP3 Jateng, Jumat malam baru pulang dari studi banding BP3 Jateng ke Jawa Timur.

Seperti diberitakan, jenazah Lambang Babar Purnomo (57) ditemukan meninggal di selokan di pinggir Jalan Lingkar Utara, Pandega Padma, Sleman, Provinsi DIY, Sabtu pagi sekitar pukul 04.30. Diduga korban meninggal akibat kecelakaan tunggal.

“Karena ditemukan di saluran air dan posisi ditimpa sepeda motor, untuk mengetahui penyebab kematiannya, keluarga dan BP3 Jateng meminta supaya dilakukan otopsi terhadap jenasah Pak Lambang,” ujar Tri yang menambahkan dari bagian kaki, tangan, badan korban tidak ada luka sama sekali. Yang luka hanya bagian kepala.

Hingga Sabtu petang, jenasah Lambang masih diotopsi. Rencananya jenasah akan dimakamkan besok, Minggu (10/2) di Pemakaman Kradenan, Yogyakarta, sebelumnya akan diberangkatkan dari rumah duka Dusun Lempongsari, Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Saat ini, Lambang merupakan saksi ahli dalam kasus pencurian enam arca batu koleksi Museum Radya Pustaka Solo yang melibatkan tersangka mantan Kepala Museum Radya Pustaka Solo KRH Darmodipuro (Mbah Hadi), Jarwadi, Suparjo (Gatot), dan Heru Suryanto. Kasus pencurian arca ini juga melibatkan pengusaha Hashim Djojohadikusumo yang membeli keenam arca tersebut dari Hugo Kreijger.

Sejak bulan Nopember 2007 lalu, Lambang bolak-bolak dari Solo-Yogyakarta untuk memberikan keterangan termasuk data-data pendukung penyidikan kasus pencurian arca batu koleksi Museum Radya Pustaka. Hampir tiap pekan Lambang berada Kantor Kepolisian Kota Besar Solo menyuplai data dan informasi.

Pekan lalu, ketika ditanya Kompas apakah pecurian puluhan arca di Museum Radya Pustaka Solo akan terungkap semua, Lambang dengan tegas menyatakan optimis kasus tersebut akan terungkap. “Saya yakin dengan bantuan polisi, pasti akan terungkap,” ujar Lambang ketika itu.

Di kalangan wartawan di wilayah Jateng dan Yogyakarta, Lambang sudah tidak asing lagi. Saat kasus pencurian arca koleksi Museum Radya Pustaka terungkap, hampir tiap pekan wajah dan pernyataan Lambang muncul di media. Lambang pun tidak pernah menolak diwawancarai wartawan kapan. Bahkan dalam keadaan capek sekalipun, Lambang pasti akan meladeni wartawan memberikan informasi.

Lambang juga adalah sosok yang sederhana, yang selalu tampil dengan penampilan yang bersahaja. Namun dalam urusan pencurian dan perusakan benda cagar budaya Lambang tidak kompromi. Lambang adalah salah satu dari pegawai BP3 Jateng yang datang ke Poltabes Solo melaporkan kasus pencurian arca batu di Museum Radya Pustaka.

Kini sang ahli purbakala itu telah tiada, meninggalkan kasus pencurian arca yang kini menunggu jadwal persidangan. Kepala Poltabes Solo yang diwakili Kepala Reserse dan Kriminal Poltabes Solo Komisaris Syarif Rahman menyatakan turut berduka atas kepergian Lambang.

Untuk kelanjutan penyidikan kasus pencurian arca, menurut Syarif, penyidik Poltabes Solo akan terus mengungkapnya. “Kami tetap melanjutkan sampai tuntas,” ujarnya. Selamat jalan Pak Lambang.  

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau