Gizi Buruk Ancam Balita di Surabaya

Kompas.com - 09/02/2008, 22:47 WIB

SURABAYA, SABTU - Kalangan anggota DPRD Kota Surabaya menganggap kasus gizi buruk pada anak umur di bawah lima tahun (balita) di Surabaya yang saat ini mencapai 20 persen dari 3.000 anak  yang ada, merupakan ancaman serius yang harus segera dicarikan solusinya.

Wakil ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Baktiono, Sabtu, di Surabaya, mengatakan kasus gizi buruk di Surabaya saat ini disebabkan rendahnya kesadaran kalangan ibu muda untuk memberikan ASI (air susu ibu) kepada anaknya. Hal itu akibat kurangnya sosialisasi akan pentingnya ASI untuk meningkatkan daya tahan bayi melalui program yang ada di posyandu atau puskesmas terdekat.

"Banyak orang tua mulai enggan mendatangi Posyandu. Untuk itu yang perlu dipikirkan saat ini oleh pemerintah adalah bagaimana orang tua bersedia membawa anaknya ke Posyandu," katanya.

Menurut dia, yang harus dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat saat ini adalah harus membuat program-program menarik yang bisa memicu para orang tua bayi untuk membawa anak-anaknya  ke posyandu.

Selain itu, kata dia, Dinkes harus bisa mengaktifkan para kadernya untuk selalu siaga di Posyandu. Sehingga jika ada orang tua yang memeriksakan anaknya bisa dengan cepat dilayani.

"Jika perlu anggaran untuk penanganan kasus gizi buruk ditambah agar kecukupan gizi di kalangan anak-anak bisa ditangani dengan baik," katanya menambahkan.

Gizi buruk di Surabaya, kata dia, merupakan cerminan kemiskinan yang ada di Ibukota Jatim saat ini. Selain itu, mahalnya bahan pokok makanan saat ini juga menjadi salah satu pemicu tingginya kasus gizi buruk di Surabaya.

Dinkes Kota Surabaya mencatat bahwa dalam setahun
hanya ada kunjungan 150.000 bayi ke 2.776 posyandu di Surabaya. Padahal, angka kelahiran bayi per tahun jauh melebihi jumlah tersebut.

Sehingga diperkirakan, ada sebanyak 3.000 bayi atau sekitar 20 persen dari bayi di Surabaya tidak terpantau kondisi kesehatannya. Bahkan sepanjang tahun 2007, setidaknya ada sekitar 240 bayi di Surabaya yang menderita gizi buruk akibat kurang asupan gizi.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau