SURABAYA, SABTU - Kalangan anggota DPRD Kota Surabaya menganggap kasus gizi buruk pada anak umur di bawah lima tahun (balita) di Surabaya yang saat ini mencapai 20 persen dari 3.000 anak yang ada, merupakan ancaman serius yang harus segera dicarikan solusinya.
Wakil ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Baktiono, Sabtu, di Surabaya, mengatakan kasus gizi buruk di Surabaya saat ini disebabkan rendahnya kesadaran kalangan ibu muda untuk memberikan ASI (air susu ibu) kepada anaknya. Hal itu akibat kurangnya sosialisasi akan pentingnya ASI untuk meningkatkan daya tahan bayi melalui program yang ada di posyandu atau puskesmas terdekat.
"Banyak orang tua mulai enggan mendatangi Posyandu. Untuk itu yang perlu dipikirkan saat ini oleh pemerintah adalah bagaimana orang tua bersedia membawa anaknya ke Posyandu," katanya.
Menurut dia, yang harus dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat saat ini adalah harus membuat program-program menarik yang bisa memicu para orang tua bayi untuk membawa anak-anaknya ke posyandu.
Selain itu, kata dia, Dinkes harus bisa mengaktifkan para kadernya untuk selalu siaga di Posyandu. Sehingga jika ada orang tua yang memeriksakan anaknya bisa dengan cepat dilayani.
"Jika perlu anggaran untuk penanganan kasus gizi buruk ditambah agar kecukupan gizi di kalangan anak-anak bisa ditangani dengan baik," katanya menambahkan.
Gizi buruk di Surabaya, kata dia, merupakan cerminan kemiskinan yang ada di Ibukota Jatim saat ini. Selain itu, mahalnya bahan pokok makanan saat ini juga menjadi salah satu pemicu tingginya kasus gizi buruk di Surabaya.
Dinkes Kota Surabaya mencatat bahwa dalam setahun
hanya ada kunjungan 150.000 bayi ke 2.776 posyandu di Surabaya. Padahal, angka kelahiran bayi per tahun jauh melebihi jumlah tersebut.
Sehingga diperkirakan, ada sebanyak 3.000 bayi atau sekitar 20 persen dari bayi di Surabaya tidak terpantau kondisi kesehatannya. Bahkan sepanjang tahun 2007, setidaknya ada sekitar 240 bayi di Surabaya yang menderita gizi buruk akibat kurang asupan gizi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang