Jalak Harupat, Mencuat tapi tak Boleh Dilihat

Kompas.com - 10/02/2008, 10:22 WIB

BANDUNG, MINGGU - Stadion Si Jalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung mencatat sejarah sebagai tempat pertandingan babak final Liga Djarum Indonesia 2007/ 2008 antara PSMS Medan melawan Sriwijaya FC Palembang  yang akan digelar Minggu (10/2) malam nantu. 

Selain  mencatatkan diri sebagai tempat pertandingan puncak liga sepak bola bergengsi di Indonesia, di Stadion Si Jalak Harupat juga tercatat sejarah final tertutup tanpa disaksikan penonton.

"Ini kepercayaan besar dari masyarakat sepak bola nasional bagi Stadion  Si Jalak Harupat, umumnya masyarakat Jawa Barat. Meski penunjukkannya mepet kami  berupaya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tidak ingin mengecewakan semuanya," kata Sekretaris Daerah yang juga Ketua Umum Persikab Kabupaten Bandung, H Abubakar.

Meski penunjukan stadion itu serba mendadak menyusul hasil rapat Menegpora Adhyaksa Dault, BLI, PSSI, Mabes Polri dan Polda Metro Jaya yang merekomendasikan pertandingan tidak digelar di Stadion Gelora Bung Karno karena alasan keamanan menyusul tewasnya seorang supporter Persija dalam babak semifinal, Rabu lalu.

Karena penunjukannya yang mendadak itu, sejarah juga mencatat perijinan menggelar pertandingan itu juga memecahkan rekor yakni dilakukan tidak lebih dari 48 jam (dua hari).
   
Izin menggelar final LDI 2007/ 2008 baru dikantongi BLI pada Minggu (10/2) siang ini, meski secara lisan Kapolda Jabar memberikan izin lisan pada Sabtu (9/2) malam.

Pertandingan final LDI 2007/ 2008 ini juga sebagai catatan sejarah Liga Indonesia, dimana dua tim Sumatera bertemu di babak final yakni antara kekuatan tradisional Sumatera  Ayam Kinantan PSMS Medan dan kekuatan baru Sriwijaya FC Palembang.

Catatan-catatan penting perjalanan final di Stadion Jalak Harupat sendiri akan terus bertambah, pasalnya pertandingan baru digelar Minggu malam nanti mulai pukul 19.00 WIB.

Sejarah Stadion

Stadion Si Jalak Harupat adalah stadion olahraga yang terletak di Desa Kopo dan Cibodas Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung. Nama Si Jalak Harupat diambil dari julukan seorang Pahlawan Nasional dari Bandung yakni Otto Iskandardinata.

Stadion itu milik Pemkab Bandung yang dikelola oleh badan khusus yakni Badan Pengelola Stadion Si Jalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung.

Stadion itu dibangun mulai Januari 2003 di bawah kepemimpinan Bupati Bandung H Obar Sobarna dengan biana sebesar Rp67,5 miliar yang diambil dari APBD Kabupaten Bandung.

Peresmian stadion itu bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-364 tanggal 26 April 2005 oleh H Agum Gumelar yang saat itu menjabat Ketua Umum KONI Pusat.  

Selama ini, Stadion Si Jalak Harupat merupakan ’home base’ tim Divisi Utama Persikab Kabupaten Bandung. Karena bangunannya yang berstandar internasional, stadion yang berlokasi di tengah pesawahan itu sering dipergunakan untuk pertandingan dan latihan Timnas PSSI atau pertandingan tim Liga Indonesia seperti Persib Bandung dan Pelita Jaya Purwakarta.

Pertandingan final Liga Djarum Indonesia 2007/ 2008 sekaligus akan melengkapi ’reputasi’ stadion itu. "Sebelumnya Stadion Si Jalak Harupat telah menjadi tuan rumah final Divisi II PSSI, Divisi I PSSI dan kini lengkaplah sudah dengan menjadi tuan rumah final Liga Djarum Indonesia," kata Sekretaris Badan Pengelola Stadion Si Jalak Harupat, Ahmad Ruslani. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau