Usut Tuntas Kematian Lambang dan Kasus Radya Pustaka

Kompas.com - 10/02/2008, 14:28 WIB

 JAKARTA, MINGGU -  Penyebab tewasnya Lambang Babar Pramono, saksi ahli dalam kasus dugaan pencurian arca di Museum Radya Pustaka Surakarta, harus diusut tuntas oleh penegak hukum. Anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah V Mutammimul Ula (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera), Minggu (10/2) mempertanyakan kemungkinan kematian Lambang Babar Pramono terkait dengan kasus dugaan pencurian arca yang sedang ditangani oleh polisi. 

Mutammimul meminta agar Mabes Polri memberi backup penuh penanganan kasus ini. Bahkan jika perlu, kasus diambilalih langsung oleh Mabes Polri agar terungkap lebih jelas dan cepat. 

Seperti diberitakan, Lambang Babar Pramono ditemukan meninggal di kawasan Ringroad Utara Jl Pandega Padma, Sleman (9/2) pagi. Jenazah Lambang yang pegawai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah ditemukan di sebuah selokan bersama sepeda motornya. 

Sementara itu, Mutammimul juga mengingatkan bahwa kasus pencurian arca tersebut menyimpan misteri yang harus segera diungkap sampai ke akar-akarnya. Apalagi dealer dan konsultan benda seni Hugo Kreijger yang disebut terlibat kuat dalam proses "jual-beli" sampai detik ini belum tertangkap Interpol dan baru Hasyim Djojohadikusumo yang merupakan pembeli arca yang dipanggil oleh Poltabes Surakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau