Mesin Cetak Milik Jaringan Kartu Kredit Masih Dipakai VISA

Kompas.com - 11/02/2008, 14:33 WIB

Laporan Wartawan Persda Network Mohammad Abduh

 

JAKARTA, SENIN - Kejahatan pemalsuan kartu kredit yang berhasil diungkap Direktorat IV TP Narkoba dan KT Mabes Polri bisa disebut Kabareskrim Irjen Bambang Hendarso sebagai prestasi yang luar biasa. "Bagaimana tidak, biasanya kita hanya berhasil menangkap pelaku dan kartu kreditnya palsu. Tapi kali ini Alhamdulillah kita berhasil menemukan mesin pencetak dan perangkat pemalsu kartu kredit itu dari tersangka," ujar Bambang saat jumpa pers, Senin (11/2) di Bareskrim Mabes Polri.

Dari keterangan 14 tersangka yang ditangkap, jaringan pemalsu kartu kredit ini sudah beroperasi sejak 5 tahun lalu, dikendalikan oleh warga Malaysia bernama Simon yang kini buron. Kerja mereka terbilang canggih. Bagaimana tidak hasil pengecekan VISA yang datang ke Indonesia beberapa hari kemarin, diketahui mesin yang mereka gunakan untuk mencetak kartu kredit itu sampai sekarang masih digunakan. "Kita sedang menyelidiki darimana mereka dapatkan mesin itu," ujar Bambang.

Beberapa barang bukti yang berhasil disita polisi dari kediaman tersangka diantaranya adalah 131 mesin gesek kartu kredit, 2 unit mesin, 17 mesin print saleft draft, 3 mesin cetak berikut adaptor, 3 tas berisi kabel, 3 koper kartu kredit berisi 31 macam bank, 1 kardus bahan lembaran kartu kredit, 87 KTP, 4 pasport, 12 stempel, dan 3 unit komputer.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau