PALANGKARAYA, SENIN - Tingkat pencemaran merkuri yang terjadi di tiga sungai besar di Kalimantan Tengah, yaitu Sungai Barito, Kahayan, dan Kapuas, masih membahayakan karena melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.
"Pencemaran logam berat memang mulai menurun tetapi masih di atas baku mutu, sehingga masyarakat harus berhati-hati mengkonsumsi air di tiga sungai itu," kata Kepala Badan Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah (BPPLHD) Kalteng Moses Nicodemus, di Palangka Raya, Senin (11/2).
Berdasarkan hasil pemantauan BPPLHD Kalteng, pencemaran merkuri melebihi baku mutu di wilayah DAS Barito terjadi di Sungai Tewah dengan kosentrasi 5,519 mikro gram per liter. Batas maksimal baku mutu konsentrasi merkuri sendiri ditetapkan sebesar 2,000 mikro gram per liter.
Sementara di DAS Kahayan, kosentrasi merkuri tinggi antara 2,966 hingga 4,687 mikro gram per liter ditemukan di Bawan, Tanjung Sanggalang, Tumbang Rungan, Jembatan Kahayan, Jabiren, dan Pulang Pisau.
Kondisi paling parah terjadi di DAS Kapuas dengan tingkat pencemaran yang mencapai 7,029 mikro gram per liter atau lebih tiga kali dari batas baku mutu. Wilayah yang mengalami pencemaran di sungai ini diantaranya Mentangai, Kuala Kapuas, Pulau Tilu, Timpah, Masaran, dan Masaran Hulu.
Kandungan merkuri tinggi tersebut, menurut Moses, berkorelasi erat dengan aktifitas ribuan mesin sedot dari pertambangan emas tanpa ijin (Peti) yang menggunakan merkuri dalam proses penyaringannya.
"Namun secara umum, penelitian tahun lalu itu juga menyatakan terjadi perbaikan kualitas air dibanding tahun 2003 dari sejumlah parameter, seiring berkurangnya jumlah peti yang beroperasi," jelasnya.
Penurunan jumlah peti disebabkan karena semakin berkurangnya potensi emas di wilayah sekitar sungai serta dampak kenaikan bahan bakar minyak.
Padahal pada masa keemasannya sekitar tahun 2001, kata Moses, jumlah peti di sepanjang sungai bisa mencapai 5.300 unit seperti yang terjadi di DAS Kahayan, yang kesemuanya menggunakan merkuri dalam aktifitasnya.
"Merkuri sangat berbahaya karena senyawanya bersifat sangat toksik bagi manusia dan hewan," kata Moses.
Senyawa merkuri dapat terserap dalam usus dan terakumulasi dalam ginjal dan hati dalam waktu cukup lama, serta dapat mengakibatkan kerusakan otak
Warga Mengeluh
Anggota Komisi C bidang Kesra DPRD Kalteng Arief Budiatmo, sebelumnya mengaku mendapat banyak keluhan warga di sekitar bantaran Sungai Kahayan yang terpaksa mengkonsumsi air sungai meski terlihat sangat keruh akibat aktifitas Peti.
Masyarakat di bantaran sungai Kahayan, lanjutnya, sangat membutuhkan sarana air bersih yang memadai, apakah itu dari sumur bor atau sarana lainnya.
"Mereka tahu air sungai itu, sudah tercemar dan terkontaminasi zat berbahaya buangan dari kegiatan Peti. Tetapi, mereka tetap mengkonsumsinya karena tak ada alternatif lain," katanya.
Sebagian besar warga di provinsi Kalteng hingga kini tercatat masih kesulitan mendapatkan air bersih. Selain sebagai dampak aktifitas Peti, penyebab lain diantaranya karena asinnya sejumlah sungai pada musim kemarau yang diakibatkan masuknya rembesan air laut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang