RAWASARI, SENIN - Kepedihan yang saat ini melanda puluhan keluarga yang tadinya menghuni RT 16/RW 09 kelurahan Rawasari rupanya tidak terlihat di kompleks pedagang porselen yang terletak persis disampingnya. Para tetangga korban penggusuran ini tampak sibuk bertransaksi dengan peminat keramik yang tiba-tiba membludak.
Kontras dengan pemandangan di bekas pemukiman warga yang saat ini ramai dikerumuni pemulung yang mengumpulkan puing-puing dan besi tua dengan gerobak-gerobak mereka yang berjejer, kompleks pedagang keramik justru dihiasi dengan mobil-mobil sedan dan SUV yang berjejer rapi, siap mengangkut vas-vas besar dan pernak-pernik porselen lain hasil borongan pemiliknya.
Peristiwa penghancuran rumah-rumah penduduk minggu (10/2) kemarin itu seolah menjadi seruan bagi para pedagang keramik untuk menggelar cuci gudang, tidak hanya di halaman toko, tapi juga di kolong-kolong jembatan, sementara toko mereka dibiarkan kosong.
“Jualan hari ini laris manis. Semua barang kita jual murah biar habis,” kata Edo, seorang penjual. Dalam cuci gudang ini, dia memberi potongan harga 25 persen dari harga biasanya. “Hari ini ramai sekali, padahal biasanya tempat ini sangat sepi, seperti kuburan,” katanya.
Edo, seperti pedagang yang lain berencana menghabiskan semua persediaan barang di tokonya secepat mungkin. Dia tidak berencana membuka toko di tempat lain seusai berdagang di Rawasari ini.
Kesempatan ini tidak disia-siakan pembeli. Haji Nani, seorang pembeli asal Cirebon, menyempatkan diri berkunjung untuk bisa membeli keramik murah sebanyak mungkin. “Kebetulan saya sedang di Jakarta dan mendengar kabar ini. Sebetulnya yang saya lihat di tivi justru berita penggusurannya, tapi sekalian saja saya kesini untuk mendapatkan keramiknya,” kata dia sambil menunjukkan tumpukan peralatan makan yang baru diborongnya.
C3-08