Pengamanan SBY Ditingkatkan

Kompas.com - 11/02/2008, 22:54 WIB

JAKARTA,SENIN - Penembakan terhadap Presiden Timor Leste Ramos Horta pada Senin (11/2) dini hari diam-diam memberi pelajaran bagi Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) RI untuk mengawal Kepala Negara Susilo Bambang Yudhoyono.

"Wow, yang begitu-begitu tidak perlu diperintahkan lagi dari Presiden. Paspampres sudah tahu, dan mengambil itu sebagai studi kasus," jawab Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng saat ditanya tentang adakah permintaan khusus Presiden Yudhoyono untuk meningkatkan pengamanan diri.

Menurut Andi saat temui di kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (11/2), Paspampres bakal bersikap profesional, dan mengikuti standar-standar internasional tentang keamanan presiden dan wapres, dan mengikuti bagaimana sistuasi terbaru dari kejadian-kejadian di negera lain.

"Paspampres kita mereview situasi itu, apa yg terjadi bagaimana, dan menarik pelajaran dari kejadian itu agar kejadian itu tidak terjadi di Indonesia," tukasnya.

Andi menambahkan, secara tak sengaja, dirinya sempat melihat sejumlah paspampres berdiskusi dan berdialog atas penembakan yang mengena Presiden tetangga RI ini.

"Saya juga tahu tadi teman-teman paspampres berdiskusi diantara mereka mempelajari apa yang terjadi di Timor Leste, ya studi kasus," sergahnya.

Tidak hanya kasus Ramos Horta yang menjadi bahan pembelajaran, sewaktu bom diri menewaskan politikus Pakistan Benazir Bhutto, pemerintah pun menarik pelajaran atas kasus tersebut.

"Waktu kasus Benazir Bhutto, Presiden Yudhoyono bahkan menginstruksikan kepada Kapolri memberikan pengamanan kepada tokoh politik dalam negeri, baik pada tingkat nasional maupun lokal," paparnya.(Persda Network/ade)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau