JAKARTA,SENIN - Penembakan terhadap Presiden Timor Leste Ramos Horta pada Senin (11/2) dini hari diam-diam memberi pelajaran bagi Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) RI untuk mengawal Kepala Negara Susilo Bambang Yudhoyono.
"Wow, yang begitu-begitu tidak perlu diperintahkan lagi dari Presiden. Paspampres sudah tahu, dan mengambil itu sebagai studi kasus," jawab Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng saat ditanya tentang adakah permintaan khusus Presiden Yudhoyono untuk meningkatkan pengamanan diri.
Menurut Andi saat temui di kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (11/2), Paspampres bakal bersikap profesional, dan mengikuti standar-standar internasional tentang keamanan presiden dan wapres, dan mengikuti bagaimana sistuasi terbaru dari kejadian-kejadian di negera lain.
"Paspampres kita mereview situasi itu, apa yg terjadi bagaimana, dan menarik pelajaran dari kejadian itu agar kejadian itu tidak terjadi di Indonesia," tukasnya.
Andi menambahkan, secara tak sengaja, dirinya sempat melihat sejumlah paspampres berdiskusi dan berdialog atas penembakan yang mengena Presiden tetangga RI ini.
"Saya juga tahu tadi teman-teman paspampres berdiskusi diantara mereka mempelajari apa yang terjadi di Timor Leste, ya studi kasus," sergahnya.
Tidak hanya kasus Ramos Horta yang menjadi bahan pembelajaran, sewaktu bom diri menewaskan politikus Pakistan Benazir Bhutto, pemerintah pun menarik pelajaran atas kasus tersebut.
"Waktu kasus Benazir Bhutto, Presiden Yudhoyono bahkan menginstruksikan kepada Kapolri memberikan pengamanan kepada tokoh politik dalam negeri, baik pada tingkat nasional maupun lokal," paparnya.(Persda Network/ade)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang