Laporan Ati Kamil dan Kristianto Purnomo dari Senayan, Jakarta
JAKARTA, SELASA- Dengan bertelanjang kaki alias nyeker penyanyi eksentrik Bjork mencoba mengobati dahaga para pengemarnya di Jakarta. Selama 90 menit, Bjork yang juga dikenal sebagai pencipta lagu asal Islandia itu mencoba menghanyutkan penonton yang memenuhi Tennis Indoor Senayan yang disulap menjadi panggung musik.
Memulai pertunjukannya pada pukul 20.45 atau sengaja diulur 45 menit, pemilik nama lengkap Bjork Effing Awesome Gudmundsdottir alias Bjork Gudmundsdottir muncul di panggung setelah 10 pemain alat tiup logam yang merangkap sebagai penyanyi latar--kebanyakan perempuan--bersama para pemain musik, programmer, dan juru multimedianya siap dengan alat mereka.
Bjork membuka tontonan langsung dengan Earth Intruders, single pertama dari album mutakhirnya, <Volta>. Tampaknya Bjork tahu benar cara menghipnotis penonton Indonesia. Sebab lagu ini adalah lagu yang terinsiprasi oleh peristiwa tsunami ketika ia berkeliling dunia bersama PBB, termasuk ke Aceh, untuk kegiatan kemanusiaannya.
Selesai dengan lagu tersebut, Bjork berusaha keukeuh dengan lagu-lagu bertempo lambat. Namun ia tetap tampil dengan gaya yang sangat ekspresif dan bebas.
Sementara itu di bawah tata cahaya temaram dan permainan laser, penonton pun bersikap seperti penonton musik serius: kalem dan hanya memberikan sambutan sebelum atau sesudah sang idola membawakan lagunya.
Lagu bertempo lambat dan gaya yang ekspresif itu bertahan hingga sepertiga penampilannya.
Pada penampilannya itu Bjork juga tetap memperhatikan posisinya di panggung. Ia kadang ada di depan pemain drum dan perkusi dengan berbagai pernik-perniknya. Atau dekat programmer multimedia yang membentuk komposisi cantik dengan barisan pemain alat tiup.
Di panggung sendiri ada tiga TV layar lebar. Area konser dihiasi permainan laser yang ditembakkan dari arah panggung ke bentangan kain-kain di langit-langit gedung (yang berfungsi mengatur akustik ruang) dan bagian atas tribun yang berseberangan dengan panggung.
Sementara itu di latar panggung dipasangi sejumlah bendera merah dan kuning bergambar katak, burung, buaya, dan ikan. Bendera-bendera ini dipasang berjuntai. Di punggung setiap pemain alat tiup juga dipasang bendera merah kecil-kecil. Pencahayaan yang dimainkan dengan apik membantu Bjork, yang mengenakan kostum penuh ruffle berwarna merah dan kuning keemaasan, yang selaras dengan warna kostum para pemusik tiup dan dekorasi panggung, yaitu merah, biru, dan kuning.
Setelah sepertiga pertunjukannya, Bjork menggelindingkan lagu-lagu bertempo cepat. Penonton berjingkrak. Bahkan, sebagiannya, terutama yang di kelas festival, turut menyanyi. Sesudah lagu ke-16, Bjork mundur. Penonton pun langsung berteriak "We want more! We want more!"
Sebagaimana penampilannya di tempat-tempat lain dalam tur musiknya itu, ibu tiga anak ini muncul kembali ke panggung untuk memenuhi dahaga penonton. "It is wonderful to be in your country," ujarnya. Tetapi sebelum membawakan dua lagu tambahan, Oceania dan Declare Independence, ia terlebih dulu memperkenalkan para pemain pendukungnya di panggung satu persatu.
Oceania ia bawakan hanya diiringi para pemain alat tiup, sedangkan Declare Independence, yang bertempo cepat dan disajikan bersama semua pemain pendukung, membawa penonton berjingkrak lagi. Confetti dan sinar laser pun ditebar lagi, dilengkapi semburan dry ice.
Tontonan berakhir sesudah Bjork pamit dengan membungkukkan badannya ke arah penonton sambil kedua tangannya memekarkan ujung-ujung bawah ruffle pada kostumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang