Jl Soeharto akan Gantikan Jl Godean?

Kompas.com - 13/02/2008, 08:23 WIB

YOGYAKARTA, RABU - Bupati Sleman Ibnu Subiyanto berencana mengubah nama Jalan Godean menjadi Jalan Soeharto. "Saya tidak ambil pusing kalau ada yang tidak setuju. Saya ingin mendidik masyarakat Sleman untuk tidak terus-menerus menghujat dan membenci almarhum mantan Presiden Soeharto," kata Bupati Sleman, DIY, Ibnu Subiyanto.

Pernyataan Ibnu Subiyanto bahkan lebih tegas lagi ketika dia ditanyai wartawan tentang kemungkinan bakal munculnya kontroversi menyusul gagasan itu.

"Saya siap menerimanya (kritik dari mereka yang tidak setuju)," katanya.

Menurut rencana sang bupati, penggalan jalan yang akan diberi nama Soeharto itu mulai dari perempatan jalan lingkar barat hingga Jati Kencana. Selain itu akan dibuat pula patung Soeharto di perempatan jalan lingkar barat Demak Ijo kawasan Godean.

"Rencana itu perlu dikaji lebih dulu untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap  penggunaan nama Soeharto sebagai nama jalan," kata sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Teguh Wibowo.

Menurut dia, langkah itu diperlukan agar pengantian nama jalan tersebut tidak menimbulkan polemik. Ia mengatakan, yang perlu dilakukan itu antara lain kajian jasa Soeharto, dengar pendapat dengan elemen masyarakat, serta meminta pertimbangan anak-anak Soeharto.

"Dengan demikian pergantian nama jalan itu tidak menimbulkan kontroversi dan semua elemen masyarakat bisa menerimanya," ujar Teguh.

Pandangan yang sama juga dikemukakan Ketua DPRD Sleman Rendradi Suprihandoko. Dia mengatakan, penggantian nama jalan Godean menjadi jalan Soeharto’perlu pertimbangan matang.

"Dewan belum bisa menanggapi gagasan Bupati Ibnu Subiyanto tersebut di samping memang belum mambahasnya dalam rapat paripurna. Tidak usah terburu-buru," ujarnya.

Menurut dia,  Soeharto memang memiliki jasa bagi perkembangan di negeri ini, tapi harus pula diakui bahwa sosoknya masih memunculkan kontroversi..

Pemerintah daerah setempat pernah mengganti nama Jalan Gejayan menjadi Jalan Affandi, pelukis, dan perubahan itu tidak menimbulkan polemik.

Sementara itu, Ketua DPRD DIY Djuwarto mengatakan, semua pihak sebaiknya berpikir matang soal pemberian nama Jalan Soeharto, karena nama jalan itu menyangkut wilayah publik.

Berlebihan

"Rencana (pemberian nama jalan Soeharto) itu terlalu berlebihan," kata Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Budiyanto.

Menurut dia, sosok Presiden ke-2 itu masih menimbulkan pro kontra, terutama mengenai kasus hukumnya. Selama ini memang ada jasa besar Soeharto, tetapi patut dicatat pula bahwa kesalahan dan  pelanggaran yang dibuatnya juga besar.

"Karena itu terlalu berlebihan jika Pemkab Sleman ingin mengganti nama jalan Godean menjadi jalan Soeharto. Kesannya terlalu terburu-buru dan akan mengundang reaksi masyarakat," katanya.

Menurut dia, proses hukum Soeharto masih berjalan dan dari pantauan mahasiswa ada upaya-upaya menghilangkan kasus tersebut atau mengalihkannya ke isu lain.

Selain itu, kata dia, pengabadian nama Soeharto menjadi nama jalan juga akan menimbulkan reaksi keras dari masyarakat, khususnya mereka yang merasa perlu keadilan dalam masalah hukum.

"Rencana pemberian gelar pahlawan nasional atau pengibaran bendera setengah tiang selama tujuh hari ketika Soeharto meninggal saja memunculkan reaksi masyarakat," katanya.

Ia mengkhawatirkan pergantian nama jalan ini akan menimbulkan reaksi yang lebih keras lagi. "Mahasiswa meminta Pemkab Sleman untuk menunda atau bahkan membatalkan rencana penggantian nama jalan tersebut sampai ada penjelasan mengenai status hukum Soeharto," katanya.(ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau