Pasar Masih Akan Terus Tumbuh

Kompas.com - 14/02/2008, 08:34 WIB

TIDAK perlu khawatir berlebihan properti akan kena krisis pembeli. Pasar properti akan terus tumbuh paralel dengan pertumbuhan penduduk.

Ucapan ini diungkapkan pengembang Trihatma Kusuma Haliman dari Grup Agung Podomoro dan AM Marhendra dari Grup SpringHill di Jakarta baru-baru ini. Keduanya berangkat dari logika sederhana, yaitu pertumbuhan manusia yang lebih tinggi dari angka kematian pasti mengakibatkan lonjakan kebutuhan rumah dan apartemen baru.

Pertumbuhan ini pula yang pada ujungnya akan membutuhkan ruang perkantoran dan pusat perbelanjaan baru. "Ini hal yang jamak. Krisis ekonomi yang parah pernah terjadi dan orang tetap mencari rumah. Ini hukum pasar yang populer," ujar Trihatma.

Masalahnya, menurut Trihatma, pengembang tidak boleh hanya berharap pada pertumbuhan pasar. Justru Pertumbuhan permintaan mengharuskan pengembang berkreasi menghasilkan produk paling atraktif, karya paling bermutu. Kalau ini yang terjadi, para pengembang tergugah mengembangkan produk kreatif dan di sini panggung
bisnis properti menjadi sangat menarik. Pertarungan bisnis bukan pada harga, tetapi pada kemampuan menghasilkan karya-karya kreatif.

"Hukum bisnis yang sangat populer adalah kompetisi dan kita boleh sangat bahagia karena kompetisi itu bukan pada perang harga, tetapi kreativitas," ujar Trihatma. Di negara-negara maju, tren kreativitas sudah lamamenjadi langgam para usahawan.

Sementara AM Marhendra menilai, kompetisi bisnis selalu menarik. Ia akan menjadi lebih menarik apabila para pebisnis keluar dari blok perang harga dan masuk ke wilayah kompetisi yang menekankan kreativitas serta etika. "Etika juga sangat penting untuk menghindarkan pengembang dari praktik-praktik tidak etis," ujar
Marhendra.

Berkembang
Trihatma dan Marhendra tidak berlebihan tentang pasar yang berkembang. Menurut data lembaga riset dan konsultan properti Provis (2007), pasar properti masih akan terus tumbuh. Ritel, misalnya, meski daya serapnya menurun, tetapi tetap bergerak, terutama pada segmen tertentu.

Tingkat hunian ritel menurun karena tingkat hunian fisik menurun, terutama tampak pada pusat perbelanjaan strata title yang masuk pada kurun waktu 2002-2006. Peminat strata title umumnya terdiri atas para investor. Gairah baru akan tampak pada tahun 2008 tatkala retailer asing masuk Jakarta dan membuka gerainya di pusat perbelanjaan utama
Jakarta.

Pada tahun 2008 pula akan terjadi sedikit perubahan menarik pada persaingan pusat perbelanjaan baru menyusul masuknya retailer yang datang dengan model one stop retail center. Tidak sampai di sini, pusat belanja dengan tema F & B maupun entertainment akan makin meramaikan one stop retail center. Dalam kaitan ini, Provis menyarankan pengembang memerhatikan studi dan kecermatan dalam menjalankan roda bisnis. Ini untuk menghasilkan konsep yang unik dan kombinasi penyewa yang menarik.

Untuk perkantoran pada tahun 2007, menurut data Provis, pasar perkantoran mencatat rekor penyerapan tertinggi. Tahun 2008, pasar perkantoran tampaknya akan tetap positif dengan makin banyaknya perluasan dan relokasi perusahaan pada gedung perkantoran yang sudah beroperasi. Hanya saja, harga sewa rata-rata kotor diperkirakan akan naik dengan adanya kemungkinan penyesuaian biaya servis seiring dengan akan naiknya harga utilitas. Selain harga sewa, harga jual perkantoran diperkirakan akan naik karena proyek yang ditawarkan pada tahun 2008 masih dalam tahap awal pemasaran dan pembangunan.

Di bidang perhotelan, arus permintaan untuk kamar hotel bertambah deras kendati perbaikan kondisi makro-ekonomi masih lambat dan investasi proyek serta kegiatan konvensi- konvensi berskala besar masih terbatas. Beberapa proyek hotel berbintang empat dan lima dijadwalkan akan mulai beroperasi tahun 2008. Beroperasinya hotel-hotel tersebut, juga aspek pasar yang sensitif terhadap harga kamar, diperkirakan akan agak menurunkan tingkat hunian hotel.

Efisien
Di luar beberapa aspek di atas, para pengembang diajak belajar dari beberapa negara maju yang mampu menahanharga rumah dan apartemen dengan cara hemat bahan, efisien dalam cara membangun. Eksekutif properti Subianto Satmaka menyatakan, pengembang harus pandai memilih ahli konstruksi dan kontraktor yang mampu membangun dengan cara efisien. Keefisienan ini bisa dilakukan tanpa sedikitpun mengorbankan bahan dan ketahanan bangunan.

Subianto menyatakan, ia telah memegang banyak proyek dan selalu menekankan pada efisiensi. Untuk mencapai level ini,pengembang memang harus mampu berhitung dengan cermat tentang fungsi ruang, fungsi area parkir/jalan, pembangunan pilar, ruang bawah tanah, dan sebagainya. Ia mengatakan, pihaknya kini tengah merancang proyek Pancoran.

Dalam persiapan pembangunan, ia mengajak arsitek dan ahli konstruksi terbaik. Bukan untuk gaya, tetapi dari mereka ia peroleh pembangunan yang sangat efisien. Ia dan para staf intinya pun mengerahkan segenap pengalaman yang ada untuk menghasilkan produk bermutu dan ramah lingkungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau