SURABAYA, KAMIS - Ribuan petani tembakau di Jawa Timur terancam gulung tikar apabila pemerintah benar-benar merealisasikan rencananya untuk menarik seluruh minyak tanah atau menghapus biaya subsidi sehingga harus menebus dengan harga keekonomian. Pasalnya, tingkat ketergantungan industri tembakau sangat tinggi.
Bagi petani tembakau, minyak tanah mereka perlukan sebagai bahan bakar tungku untuk mengeringkan daun yang baru dipanen. Istilah lazimnya dikalangan petani adalah pengovenan.
Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Abdus Setiawan, Kamis (14/2), mengatakan petani tidak akan mampu membiayai pengeringan tembakau jika harus menggantinya dengan bahan bakar gas. Selain itu, kualitas rasa daun tembakau yang dihasilkan juga tidak sebagus jika dikeringkan di atas tungku berbahan bakar minyak tanah.
Proses pengeringan tembakau atau pengovenan mempunyai peran vital dalam menghasilkan tembakau siap proses untuk dipasok ke industri rokok. Jika prosesnya tersendat hanya gara-gara ketidakmampuan memenuhi kebutuhan bahan bakar maka secara otomatis akan mengganggu suplai ke perusahaan-perusahaan rokok.
Untuk menghasilkan satu kilogram krosok kering tembakau diperlukan 1,25 liter minyak tanah. Padahal luas areal tanam tembakau jenis Virginia di Jatim saja misalnya, mencapai 13.783 hektar dengan produksi (setara krosok kering) sebanyak 12.000 ton. Itu berarti, kebutuhan minyak tanah satu kali panen mencapai 15 juta liter.
Kalangan petani tembakau sebenarnya sudah berusaha mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah. Pilihan mereka jatuh pada tungku berbahan bakar batubara. Sebagian bahkan sudah ada yang mencoba seperti petani tembakau di Bondowoso. Sejauh ini, tidak ada keluhan dari pembeli mengenai kualitas daun tembakau kering yang dihasilkan.
Akan tetapi muncul persoalan baru yakni untuk mengonversi tungku dari bahan bakar minyak ke batubara buruh investasi Rp 5 juta per unit untuk 1,5 kilogram tembakau. Petani sendiri tidak memiliki cukup modal.
Asosiasi pernah mengusulkan kepada pemerintah agar memberikan pinjaman lunak kepada petani. Akan tetapi sampai saat ini belum juga mendapat tanggapan positif. Padahal, di tanah air ada sekitar 600.000-700.000 petani tembakau yang mengharapkan kebijakan tersebut.
Sementara itu di Jatim saja penarikan minyak tanah yang dilakukan oleh Pertamina sudah mencapai 20.000 kiloliter. Secara nasional, jumlah minyak tanah yang akan ditarik mencapai 3,5 juta kiloliter sampai akhir tahun. Targetnya, di tahun 2009 nanti penarikan minyak tanah akan mencapai 10 juta kiloliter. Itu artinya, tidak ada lagi minyak tanah bersubsidi yang beredar di tanah air.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang