Minyak Tanah Ditarik, Petani Tembakau Resah

Kompas.com - 14/02/2008, 19:06 WIB

SURABAYA, KAMIS - Ribuan petani tembakau di Jawa Timur terancam gulung tikar apabila pemerintah benar-benar merealisasikan rencananya untuk menarik seluruh minyak tanah atau menghapus biaya subsidi sehingga harus menebus dengan harga keekonomian. Pasalnya, tingkat ketergantungan industri tembakau sangat tinggi.

Bagi petani tembakau, minyak tanah mereka perlukan sebagai bahan bakar tungku untuk mengeringkan daun yang baru dipanen. Istilah lazimnya dikalangan petani adalah pengovenan.

Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Abdus Setiawan, Kamis (14/2), mengatakan petani tidak akan mampu membiayai pengeringan tembakau jika harus menggantinya dengan bahan bakar gas. Selain itu, kualitas rasa daun tembakau yang dihasilkan juga tidak sebagus jika dikeringkan di atas tungku berbahan bakar minyak tanah.

Proses pengeringan tembakau atau pengovenan mempunyai peran vital dalam menghasilkan tembakau siap proses untuk dipasok ke industri rokok. Jika prosesnya tersendat hanya gara-gara ketidakmampuan memenuhi kebutuhan bahan bakar maka secara otomatis akan mengganggu suplai ke perusahaan-perusahaan rokok.

Untuk menghasilkan satu kilogram krosok kering tembakau diperlukan 1,25 liter minyak tanah. Padahal luas areal tanam tembakau jenis Virginia di Jatim saja misalnya, mencapai 13.783 hektar dengan produksi (setara krosok kering) sebanyak 12.000 ton. Itu berarti, kebutuhan minyak tanah satu kali panen mencapai 15 juta liter.

Kalangan petani tembakau sebenarnya sudah berusaha mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah. Pilihan mereka jatuh pada tungku berbahan bakar batubara. Sebagian bahkan sudah ada yang mencoba seperti petani tembakau di Bondowoso. Sejauh ini, tidak ada keluhan dari pembeli mengenai kualitas daun tembakau kering yang dihasilkan.

Akan tetapi muncul persoalan baru yakni untuk mengonversi tungku dari bahan bakar minyak ke batubara buruh investasi Rp 5 juta per unit untuk 1,5 kilogram tembakau. Petani sendiri tidak memiliki cukup modal.

Asosiasi pernah mengusulkan kepada pemerintah agar memberikan pinjaman lunak kepada petani. Akan tetapi sampai saat ini belum juga mendapat tanggapan positif. Padahal, di tanah air ada sekitar 600.000-700.000 petani tembakau yang mengharapkan kebijakan tersebut.

Sementara itu di Jatim saja penarikan minyak tanah yang dilakukan oleh Pertamina sudah mencapai 20.000 kiloliter. Secara nasional, jumlah minyak tanah yang akan ditarik mencapai 3,5 juta kiloliter sampai akhir tahun. Targetnya, di tahun 2009 nanti penarikan minyak tanah akan mencapai 10 juta kiloliter. Itu artinya, tidak ada lagi minyak tanah bersubsidi yang beredar di tanah air.     

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau