Beras Meroket, Kesejahteraan Petani Mepet

Kompas.com - 18/02/2008, 10:42 WIB

 

    
JAKARTA, SENIN -  Tingkat produktivitas padi di Indonesia relatif tinggi sebanyak 4,69 ton per hektare pada 2007 dan cenderung terus meningkat. Namun, sayangnya kesejahteraan petani justru turun terus.
    
"Bila dilihat dari indikator nilai Revenue-Cost pertanian padi selama 2004-2007 maka kesejahteraan petani yang diukur dari pendapatan riil-nya justru turun, ini dialami di hampir semua provinsi," kata Peneliti Puslit Ekonomi LIPI Dr Latif Adam di Jakarta, Senin (18/2), seperti dikutip dari Antara.
    
Secara agregat, pendapatan riil petani memang disebutkan naik  satu persen. Namun, sebenarnya, pertanian padi turun sekitar  empat persen bahkan di atas lima persen, karena kenaikan hanya dialami petani perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, atau karet.
    
Nilai "Revenue-Cost Ratio" usaha tani padi di Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Lampung, Sumbar, Jambi, Riau, Sumut, Gorontalo, Sulteng, Bali, juga Sumsel, Sulsel, Sulut, Maluku, dan Papua turun 1-4,99 persen, bahkan menurun tajam lima persen ke atas untuk usaha tani padi di Kalteng, Kaltim, Kalbar, Bangka Belitung, Bengkulu, NTB, NTT, dan Sultra.
    
Menurut Latif, program pemerintah meningkatkan produksi beras dengan benih padi bermutu bagi petani perlu dihargai, tetapi akan berdampak jangka panjang, lebih baik jika diimbangi kebijakan ketersediaan dan stabilitas harga sarana produksi padi lainnya.
    
Dalam struktur ongkos usaha tani, komponen benih hanya mencakup delapan persen, sisanya 92 persen adalah komponen pupuk, pestisida, sewa lahan, upah pekerja, pengairan, dan biaya pascapanen.
    
Latif mengatakan, yang 92 persen ini juga perlu diintervensi pemerintah agar ongkos usaha tani padi lebih efisien dan memberi margin yang memadai untuk menstimulus petani agar tetap bertahan pada usaha taninya. "Jika pemerintah menjamin harga sarana produksi padi, petani mempunyai ekspektasi yang jelas terhadap struktur ongkos usaha taninya dan terstimulus untuk bertahan pada usahanya dan tak tertarik mengkonversi lahannya ke perkebunan, perumahan atau industri," katanya.
    
Selama ini pemerintah hanya menetapkan harga pembelian beras dan gabah kering giling dari petani berdasarkan Inpres serta mensubsidi pupuk dengan menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET)-nya tanpa dibarengi kontrol dalam distribusi. "Akibatnya banyak terjadi penyelundupan pupuk bersubsidi ke luar negeri atau pengalihan pupuk untuk perkebunan besar dan terjadi kelangkaan pupuk di pasar," tambahnya.
    
Produktivitas beras Indonesia (4.611 kilogram per hektare pada 2006) dibanding negara lain seperti Thailand (3.249) dan Filipina (3.684) tidak kalah dan hanya terlampaui oleh Vietnam yang pada 2006 mencapai 4.890 kilogram per hektare.
    
Produksi beras dalam negeri 2007 cukup besar sebanyak 35.799 ton. Namun,  konsumsi beras mencapai 37.891 ton. Kekurangan sekitar dua ton dipenuhi dengan mengimpor. "Konversi lahan adalah alasan utama kekurangan ini," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau