MATARAM, SENIN - Nusa Tenggara Barat (NTB) ditetapkan sebagai pusat sentra benih kedelai nasional bersama tiga provinsi lainnya di Indonesia yakni Jawa Timur, Aceh, dan Jawa Barat.
Kepala Dinas Pertanian NTB, Mashur usai menghadiri penyerahan dana Pemilihan Umum Kepala Daerah kepada KPU NTB di Mataram, Senin (18/2) seperti dikutip Antara, menjelaskan, NTB dipilih sebagai sentra benih nasional karena areal kedelai di daerah ini cukup luas mencapai 18.000 hektare. Penanaman kedelai di daerah itu dilakukan dua kali.
Menurut Mashur, petani akan siap menyediakan benih untuk kebutuhan nasioanl asalkan harganya tidak kurang dari harga kedelai konsumsi. Tetapi, jika harganya lebih murah dari harga kedelai yang dikonsumsi, petani akan menjual untuk kebutuhan konsumsi. Sehingga, tidak ada artinya NTB ditunjuk sebagai pusat sentra benih kedelai nasional.
Sementara, harga kedelai sekarang ini sekitar Rp7.000-7.500 per kg untuk baik untuk konsumsi maupun kebutuhan bahan baku tahu dan tempe. Akhir Januari lalu harga kedelai cukup tinggi sehingga sangat mengkhawatirkan bagi pembuat tahu dan tempe di daerah ini.
Akibat kenaikan itu, Pemerintah Kota Mataram mensubsidi kedelai dan menjadi satu-satunya kabupaten/kota yang melakukan itu. Subsisi kedelai diberikan hanya sekali kepada pembuat tahu dan tempe di Kekalik sebesar Rp20 juta untuk pembelian kedelai sekitar 20 ton. "Kedelai sebanyak 20 ton tersebut disediakan oleh distributor Bina Arta dan kini para pembuat tahu dan tempe sudah mulai memproduksi," katanya.
Ketua Asosiasi Tahu-Tempe Kekalik Mataram, Hasbah, mengatakan, harga kedelai Rp7.700 per kg, sementara pemerintah Kota Mataram memberikan subsisi sebesar Rp1.000 per kg. Jadi, yang harus dibayar oleh perajin tahu tempe Rp6.700 per kg.
Dia menjelaskan, sekitar 600 pembuat tahu dan tempe di Kekalik terancam tak bisa berproduksi akibat naiknya harga kedelai yang sangat besar dari Rp3.500 hingga Rp7.700 bahkan Rp8.000 per kg. "Harga kedelai naik dari 4.300 menjadi Rp8.000 per kilogram, harga bahan baku utama tahu tempe ini mengalami kenaikan secara nasional," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang