NTB Jadi Salah Satu Sentra Kedelai Nasional

Kompas.com - 18/02/2008, 11:42 WIB

MATARAM, SENIN - Nusa Tenggara Barat (NTB) ditetapkan sebagai pusat sentra benih kedelai nasional bersama tiga provinsi lainnya di Indonesia yakni Jawa Timur, Aceh, dan Jawa Barat.
    
Kepala Dinas Pertanian NTB, Mashur usai menghadiri penyerahan dana Pemilihan Umum Kepala Daerah kepada KPU NTB di Mataram, Senin (18/2) seperti dikutip Antara, menjelaskan, NTB dipilih sebagai sentra benih nasional karena areal kedelai di daerah ini cukup luas mencapai 18.000 hektare. Penanaman kedelai di daerah itu dilakukan dua kali.
    
Menurut Mashur, petani akan siap menyediakan benih untuk kebutuhan nasioanl asalkan harganya tidak kurang dari harga kedelai konsumsi. Tetapi, jika harganya lebih murah dari harga kedelai yang dikonsumsi, petani akan menjual untuk kebutuhan konsumsi. Sehingga, tidak ada artinya NTB ditunjuk sebagai pusat sentra benih kedelai nasional.
    
Sementara, harga kedelai sekarang ini sekitar Rp7.000-7.500 per kg untuk baik untuk konsumsi maupun kebutuhan bahan baku tahu dan tempe. Akhir Januari lalu harga kedelai cukup tinggi sehingga sangat mengkhawatirkan bagi pembuat tahu dan tempe di daerah ini.
    
Akibat kenaikan itu, Pemerintah Kota Mataram mensubsidi kedelai dan menjadi satu-satunya kabupaten/kota yang melakukan itu. Subsisi kedelai diberikan hanya sekali kepada pembuat tahu dan tempe di Kekalik sebesar Rp20 juta untuk pembelian kedelai sekitar 20 ton. "Kedelai sebanyak 20 ton tersebut disediakan oleh distributor Bina Arta dan kini para pembuat tahu dan tempe sudah mulai memproduksi," katanya.
    
Ketua Asosiasi Tahu-Tempe Kekalik Mataram, Hasbah, mengatakan, harga kedelai Rp7.700 per kg, sementara pemerintah Kota Mataram memberikan subsisi sebesar Rp1.000 per kg. Jadi, yang harus dibayar oleh perajin tahu tempe Rp6.700 per kg.     
    
Dia menjelaskan, sekitar 600 pembuat tahu dan tempe di Kekalik terancam tak bisa berproduksi akibat naiknya harga kedelai yang sangat besar dari Rp3.500 hingga Rp7.700 bahkan Rp8.000 per kg. "Harga kedelai naik dari 4.300 menjadi Rp8.000 per kilogram, harga bahan baku utama tahu tempe ini mengalami kenaikan secara nasional," katanya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau