Penyakit Jantung Bawaan: Dari Pisau ke Jarum

Kompas.com - 18/02/2008, 19:59 WIB

BANYAK kasus penyakit jantung bawaan memerlukan koreksi dengan tindakan bedah yang selama ini merupakan tata laksana baku. Selama ini teknik bedah yang digunakan telah berkembang dengan keberhasilan operasi cukup memuaskan. Sejalan kemajuan yang dicapai dalam intervensi bedah, pada saat bersamaan intervensi non bedah seperti kateterisasi jantung juga mulai berkembang.

PJB adalah penyakit dengan kelainan pada struktur atau fungsi sirkulasi jantung yang telah ada saat lahir. Kelainan ini terjadi akibat ada gangguan perkembangan struktur jantung pada fase awal pertumbuhan janin. Sekitar sepertiga hingga separuh dari seluruh kasus PJB perlu tindakan bedah atau intervensi, kata Guru Besar Bidang Kardiovaskuler Anak FKUI Prof Ganesja M Harimurti, Senin (18/2), di auditorium Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta.

Dari diagnostik, pemanfaatan teknik kateterisasi ini berkembang jadi teknik intervensi non bedah pada PJB. Teknik dan alat yang digunakan mengalami perbaikan seiring kemajuan teknologi. Perkembangan tata laksana PJB menggambarkan progresivitas atau pergeseran secara revolusioner. Banyak prosedur yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan transkateter, ternyata dapat dilakukan dan jadi pilihan menggantikan berbagai prosedur bedah pada tata laksana PJB.

Beberapa intervensi transkateter pada PJB yang telah dapat dilakukan antara lain prosedur dilatasi atau pelebaran pada katup-kantup jantung yang menyempit, pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat, dan sekat antar serambi jantung yang perlu dilebarkan pada kasus khusus. Prosedur oklusi atau penutupan dilakukan pada lubang antara sekat serambi atau bilik jantung, saluran duktus arteriosus, serta penutupan pembuluh darah tidak normal.

Revolusi teknologi terbaru dari pisau ke jarum adalah berkembangnya teknologi katup buatan sehingga penggantian katup jantung seperti katup pulmonal dan aorta, serta reparasi katup mitral telah dapat dilakukan transkateter, ujarnya. Intervensi transkateter juga telah dilakukan pada terapi resinkronisasi jantung (CRT), tindakan ablasi pada gangguan irama jantung, serta pemasangan pacu jantung permanen.

Di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, pada periode 1998 hingga 2007 telah dilakukan 4.666 operasi dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun, mencapai 766 operasi pada tahun 2007. Tahun 1996 merupakan awal dilakukannya intervensi transkateter pertama di Indonesia pada 2002, intervensi transkateter penutupan defek bawaan mengalami peningkatan sangat bermakna.       

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau