Operasi Jantung, Lebih Nyaman dengan Transkateter

Kompas.com - 18/02/2008, 21:21 WIB

PENYAKIT jantung bawaan merupakan jenis penyakit bawaan yang cukup banyak diderita anak baru lahir. Sekitar 30 persen dari seluruh kasus kelainan bawaan, penyakit jantung bawaan merupakan kasus yang paling sering muncul dan menyebabkan kematian di tahun pertama kehidupan.

PJB merupakan penyakit dengan kelainan pada struktur atau fungsi sirkulasi jantung yang telah ada saat lahir. Kelainan ini terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal pertumbuhan janin. Sekitar sepertiga hingga separuh dari seluruh kasus PJB memerlukan tindakan bedah atau intervensi.

Padahal tindakan macam ini seringkali mengguncang batin di pasien juga keluarganya. Pasien dihadapkan oleh deretan pisau bedah sebelum operasi, dan diselesaikan dengan bekas sayatan operasi. Karena itulah, tak heran banyak pasien yang menolak untuk melakukan operasi.

Namun sejalan dengan kemajuan yang dicapai dalam intervensi bedah, teknik bedah dengan keberhasilan operasi yang cukup memuaskan mulai berkembang , terutama untuk kasus jantung bawaan. Teknik dengan kateterisasi jantung telah berkembang menjadi teknik intervensi transkateter.

Menurut Prof. Dr. Ganesja Mulia Harimurti, SpJP (K), FIHA, FASCC, spesialis jantung anak RS Harapan Kita, kateterisasi jantung adalah suatu tindakan invasive yang dilakukan untuk mendiagnosa penyakit jantung. Caranya dengan memasukkan kateter atau selang kecil ke dalam sistem pembuluh darah besar, arteri koroner dan ruang-ruang jantung disertai dengan pengukuran saturasi darah di daerah jantung.

Intervensi transkateter lewat balonisasi dilakukan dengan memasukkan kateter khusus melalui sayatan 2 mm di kulit (seperti kateterisasi jantung) untuk memasukkan balon atau stent pada pembuluh darah koroner yang menyempit, agar dapat dilebarkan atau dibuka untuk melancarkan kembali aliran darah. Tindakan ini dilakukan setelah diketahui adanya penyempitan pembuluh darah koroner dari pemeriksaan kateterisasi jantung.

Keuntungan dari intervensi transkateter antara lain tidak menyisakan jaringan parut bekas sayatan operasi karena luka bekas lubang cepat menghilang, rasa nyeri yang kurang di banding operasi bedah, masa rawat yang lebih pendek serta angka kematian dan kesakitan yang lebih rendah. “Dengan adanya intervensi transkateter ini, pasien memperoleh banyak keuntungan, selain harganya yang lebih murah dibanding dengan operasi bedah, cara ini juga tidak meninggalkan bekas, sehingga pasien khususnya perempuan tidak perlu merasa rendah diri dengan adanya bekas sayatan operasi,” ujar Ganesja.

Beberapa intervensi transkateter pada PJB yang sudah dilakukan antara lain, dilatasi, oklusi, reparas dan penggantian katup, ablasi (tindakan untuk mengatasi aritmia ventrikel), dan pacu jantung permanen.

M2-08

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau