Orangtua Ancam Rental PS

Kompas.com - 21/02/2008, 07:45 WIB

JAKARTA, KAMIS - Kemunculan Playstation (PS) membuat para orangtua resah karena anak yang kecanduan main PS jadi lupa waktu dan malas belajar. Para orangtua juga mencemaskan game porno dan kekerasan yang saat ini justru digandrungi anak-anak dan remaja.     

Mutoharoh (43), warga Jalan Minangkabau Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, mengatakan anak bungsunya yang sudah kelas 4 SD hampir setiap hari bermain PS di tempat persewaan (rental),  sekitar 100 meter dari rumahnya.
    
Si anak biasanya bermain game sepak bola dan perkelahian. "Kita sering juga samperin ke tempat PS, biasanya sih pada main bola. Tapi, awas saja kalau sampai main PS porno," tuturnya, Rabu (20/2).
    
Mutoharoh menambahkan, para orangtua mengeluhkan hadirnya rental PS di tengah-tengah permukiman. Permainan itu membuat anak-anak jadi lupa waktu dan malas belajar. "Saya sudah sering larang anak-anak main, kalau main jadinya nggak mau di rumah, seharian cuma main PS," katanya.
    
Ibu dua anak ini juga mengeluhkan jenis permainan kekerasan seperti Smack Down dan Grand Teft Auto-San Andreas. Pada game Grand Teft Auto, pemain memerankan tokoh pria jagoan yang diharuskan menuju suatu tempat. Untuk itu, si jagoan dimungkinkan merampas mobil dan mengencani wanita-wanita yang ditemuinya.
    
"Saya sudah tahu kalau mainan PS itu nggak bagus. Kalau mainan bola sih masih wajar, tapi yang berantem-berantem itu kan ngeri, anak jadi maunya berantem terus," katanya. Dia menilai keberadaan rental PS perlu ditertibkan karena berdampak buruk bagi anak-anak.
    
Haryono (40), warga Cijantung, mengaku sangat kaget dengan fenomena game porno. "Selama ini, anak saya sering bermain PS di rental di dekat rumah. Saya khawatir rental tersebut menyediakan game porno," ujarnya.
    
Menurut Haryono, sebagai orangtua ia sangat khawatir anaknya terjerumus dan kecanduan game porno. "Mulai sekarang saya akan mengawasi, apakah saat bermain di rental ia memainkan game porno atau tidak,"  ujar ayah seorang anak berumur 11 tahun ini.
    
Hal yang sama dituturkan Ny Murni (33), warga Cijantung. Menurut dia, fenomena game porno membuat dirinya akan berpikir ulang untuk mengizinkan anaknya pergi ke rental PS. "Kalau main di rental kan nggak ada yang ngontrol. Yang punya rental mah tahunya untung saja, nggak peduli mau main yang porno apa enggak," katanya.
    
Murni mengatakan anaknya lebih gemar bermain PS di rental. "Padahal saya sudah belikan PS. Kalau ditanya mengapa ke rental, alasannya di rental ketemu banyak teman. Besok-besok saya akan suruh dia ajak teman-temannya untuk main PS di rumah," ujarnya.

Merangsang
    
Pendapat berbeda datang dari kalangan pengelola rental PS. Armin (33), salah satunya, berpendapat bermain PS lebih baik dibandingkan tawuran atau terjerumus narkoba. "Selain itu, beberapa permainan dapat merangsang dan melatih imajinasi serta kreativitas mereka," kata pengelola rental PS di Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, tersebut.
    
Ihwal game porno, Armin mengaku tidak pernah menyediakan.  "Saya sadar betul, konsumen kami adalah remaja dan anak-anak. Karenanya kami melarang keras game porno dimainkan di sini," katanya.
    
Menurut Armin isu game porno bisa merugikan pihaknya. Armin khawatir orangtua tidak lagi mengizinkan anak-anaknya datang ke rental PS. Keresahan serupa juga dirasakan Warsono, pemilik rental PS di Jalan Pedati, Pasarrebo, Jakarta Timur. Ia berharap peredaran game porno segera dibasmi.
    
Warsono mengatakan, permainan yang paling populer di kalangan pelanggannya adalah game sepakbola Winning Eleven. "Selain itu permainan balap dan pertarungan juga cukup digemari. Tapi memang permainan bola masih menjadi yang paling favorit bagi para gamers," katanya.
    
Warsono yang sudah empat tahun menekuni bisnis rental PS juga melarang perjudian antar-gamers. "Kalau ada yang ketahuan berjudi, saya usir dan nggak boleh lagi bermain di sini," ujarnya.
    
Pantauan Warta Kota Rabu siang, di rental PS milik Armin dan Warsono para gamers yang main PS adalah sejumlah remaja berseragam sekolah. Mereka memainkan Winning Eleven dan game balap Need for Speed.
    
Yudi (14), pelajar SMP yang ditemui di sebuah rental PS, mengaku tak tahu tentang game porno. Ia bahkan tak berminat memainkannya. "Saya sukanya game sepak bola, Winning Eleven. Game porno yang lainnya saya nggak suka. Pokoknya saya hanya suka permainan sepak bola," katanya.
    
Hal yang sama juga diungkapkan Nurdin (15). Ia merasa game porno sama sekali tidak menarik. Nurdin pun hanya menyukai game sepak bola. "Tapi memang jadi agak penasaran, seperti apa sih game porno itu," ujarnya.    
    
Sementara itu, pantauan Warta Kota di pusat komputer dan game Mangga Dua, sejumlah toko masih menjual game-game porno. Di tempat ini, satu DVD game, diduga kuat barang bajakan, dijual dengan harga Rp 7.500 atau lebih mahal Rp 2.500 daripada di Glodok. Menurut seorang pedagang, game porno hanya bisa dimainkan di perangkat PS2. Sedangkan DVD game perangkat sejenis dengan merek berbeda, yakni Microsoft XBox dan Nintendo Wii, tidak ada yang porno. "Banyak juga yang cari Playboy untuk XBox, tapi yah nggak ada karena memang nggak ada yang bikin," ujarnya. 
    
Menanggapi maraknya game porno, Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, AKBP Tony Hermanto mengatakan pihaknya akan segera menyelidiki game porno tersebut. ''Kami akan segera melakukan operasi untuk memberantas peredaran barang terlarang tersebut,'' ujarnya. (m1/bum/wid)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau