Pelestarian Hutan Terancam

Kompas.com - 21/02/2008, 19:12 WIB

BONTANG, KAMIS - Beberapa bupati dan wali kota menilai penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2008 mengancam kelestarian hutan lindung di Kalimantan Timur. Mereka heran dengan rendahnya biaya sewa pembukaan hutan produksi dan hutan lindung untuk pertambangan, pembangunan infrastruktur telekomunikasi, dan jalan raya.

Adapun alih fungsi hutan itu hanya dikenai tarif Rp 1,2 juta/hektar/tahun hingga Rp 3 juta/hektar/tahun atau setara Rp 120/meter persegi hingga Rp 300/meter persegi. Demikian tercantum dalam Peraturan Pemerintah tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan yang Berlaku pada Departemen Kehutanan.

"Saya heran sekali mengapa biaya sewa begitu rendah," kata Wali Kota Tarakan, Jusuf Serang Kasim yang dihubungi dari Bontang, Kamis (21/2).

Koordinasi di pusat belum solid dalam kaca mata saya sebagai birokrat kecil (wali kota), kata Jusuf menegaskan. Dia merasa ada ketidakharmonisan hubungan antardepartemen saat pembentukan peraturan itu yakni Kehutanan, Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Perindustrian.

Jusuf khawatir, penerapan PP itu mengancam pelestarian Hutan Lindung (HL) Kota Tarakan yang sedang dipagar. Kami saja melindungi, katanya.

Pendapat senada dikemukakan oleh Bupati Pasir Ridwan Suwidi yang dihubungi terpisah. Menurut Ridwan, dirinya tetap akan memertahankan HL yang ada. "Tidak ada kompromi," katanya menegaskan.

Apalagi, lanjut Ridwan, Pasir mendeklarasikan diri sebagai kabupaten konservasi dengan menyanggupi 70 persen dari luas daratannya berstatus dan berupa hutan .

Ditanya bagaimana dengan penambangan batubara di HL Sungai Kandilo Gunung Ketam oleh PT Interek Sacra Raya, Ridwan mengatakan, tidak bisa dihentikan.

Interek ialah satu dari 13 perusahaan yang diizinkan menambang dalam HL berdasarkan pada Undang-Undang 19/2004 tentang Penambangan di Hutan Lindung. Selain itu, ialah HL Bontang di Kabupaten Kutai Timur oleh PT Indominco Mandiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau