Yuk, Wisata Nostalgia ke Sulsel

Kompas.com - 22/02/2008, 11:47 WIB

MAKASSAR, JUMAT -- Sulawesi Selatan (Sulsel) menampilkan wisata budaya dan nostalgia sebagai obyek utama menyukseskan tahun kujungan wisata Indonesia (Visit Indonesia Year-VIY) 2008. "Kita memiliki banyak obyek wisata nostalgia peninggalan zaman penjajahan di hampir semua kabupaten dan kota di Sulsel yang memiliki nilai sejarah masa lalu," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Andi Ilhamsyah Mattalatta di Makassar, Jumat (22/2).
     
Salah satu obyek wisata nostalgia yang memiliki nilai sejarah cukup tinggi yakni Monumen Korban 40.000 jiwa di Benteng Somba Opu di Makassar serta Makam Sultan Hasanuddin di kabupaten Gowa.
     
Selain itu, di sejumlah kabupaten lainnya juga terdapat obyek serupa antara lain lokasi pendaratan tentara Belanda di Luwu (Palopo) yakni desa pantai Balandai. di lokasi itu juga terdapat kuburan tentara Jepang dan Makam Datuk Patimang, pejuang dan juga penyebar syiar Islam di Bimu Sawerigading Luwu di Masamba Luwu Utara.
     
Menurut Ilhamsyah, hampir semua daerah yang melakukan pergolakan berjuang melawan penjajah di masa lalu memiliki sejarah panjang membela dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Masyarakat di beberapa daerah yang gigih berjuang mempertahakan kemerdekaan antara lain di kabupaten Barru, Luwu, Bone, Gowa, Wajo, dan Sidrap serta sejumlah pejuang lainnya dari daerah sekitarnya.
     
Wisatawan asal Eropa khususnya dari Belanda dan Jerman banyak yang tertarik Obyek wisata nostalgia tersebut begitu pula wisatawan dari Jepang. "Hampir semua obyek wisata nostalgia itu kini berubah menjadi obyek wisata budaya, sehinga kedua sarana pendukung pariwisata tersebut telah dipadukan dalam satu paket yakni wisata budaya dan nostalgia," ujar Ilhamsyah yang juga Dirut Hotel Singgasana Makassar.
     
Untuk menarik banyak wisatawan berkunjung ke Sulsel diperlukan  diversifikasi obyek, selain budaya yang selama ini telah menjadi primadona seperti budaya Toraja yang langka di dunia. Kalau di Toraja ada pesta Rambu Tuka’ (pesta panen) dan Rampu Solo’ (pesta pemakaman) yang telah menjadi andalan Sulsel, maka daerah lain juga harus mengembangkan obyek wisata yang menarik bagi turis, tutur Ilhamsyah.
     
Potensi wisata cukup banyak tersebar di semua kabupaten dan kota, namun karena kurangnya perhatian pemerintah setempat terhadap  sektor ini, sehingga potensi wisata tersebut nyaris tak terurus.
     
Kontribusi sektor wisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) cukup signifikan setiap tahun yang bersumber dari pajak hotel dan restoran. "Jika pemkab dan pemkot serius membangun sektor jasa, saya yakin pariwisata di daerah itu akan menjadi primadona untuk meningkatkan PAD setempat," katanya.
     
Ketua PHRI Makassar Anggiat Sinaga mengatakan, kontribusi sektor pariwisata di ibukota provinsi Sulsel 2007 mencapai Rp 40 miliar meningkat dari tahun sebelumnya Rp 30 miliar. Sementara itu, Walikota Makassar Ilham Arif Siradjuddin menyatakan pihaknya memberi perhatian terhadap sektor pariwisata  yang punya kontribusi cukup signifikan terhadap PAD. Untuk 2008 ini pihaknya menargetkan pendapatan Rp 100 miliar. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau