Kalla Janjikan Listrik Beres 2009

Kompas.com - 23/02/2008, 22:52 WIB

JAKARTA, SABTU - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menjanjikan dengan percepatan program atau crash program pembangunan sejumlah pembangkit listrik dan peningkatan cadangan bahan baku batubara dan gas. Diharapkan pada akhir 2009 mendatang PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak akan lagi mengalami defisit daya listrik sehingga harus melakukan pemadaman listrik secara bergiliran.

Pekan depan, diharapkan kekurangan pasokan cadangan batubara di sejumlah pembangkit listrik utama di Pulau Jawa, akan terpenuhi. Jika sebelumnya cadangan batubara hanya untuk setiap dua minggu, maka ke depan PLN harus meningkatkan cadangannya sampai sebulan.

Demikian disampaikan Wapres Kalla menjawab pers sesaat sebelum meninggalkan Indonesia menuju Korea Selatan dan Jepang, Sabtu (23/2) malam di Ruang VVIP Bandar Udara Internasional Halim Perdana Kusuma Jakarta.

"Mengapa kita sampai defisit daya listrik? Itu, karena, kebutuhannya semakin tinggi akibat konsumsi yang tinggi. Sementara, cadangan bahan baku listri kita seperti bahan bakar minyak (BBM), batubara dan gas sangat menipis. Namun, Insya Allah, ini semua akan selesai pada akhir tahun depan," ujar Wapres Kalla.

Menurut Wapres Kalla, cadangan bahan baku PLN, pada bulan-bulan seperti Desember, Januari hingga Maret, harus lebih besar lagi. "Kalau sebelumnya hanya dua minggu, itu tidak bisa lagi. PLN harus punya cadangan sampai sebulan lamanya agar tidak menipis cadangannya," tambah Wapres.

Tentang pasokan batubara yang sebelumnya kekurangan di sejumlah pembangkit utama akibat kapal yang membawanya tak berani melaut, Wapres Kalla menyatakan pada pekan depan pasokan batubara itu sudah kembali normal.

"Kita harus kembali menghindari bahan baku dari BBM, karena harganya mahal sekali. Untuk gas alam pun, pipa dari Sumatera ke Jawa juga belum selesai, meskipun nantinya akan ada juga pasokan gas dari Cepu, Jawa Tengah," lanjut Wapres.

Wapres Kalla mengakui bahwa kurangnya daya listrik sampai sebesar 1.044 MW sekarang ini sebenarnya sudah diperkirakan akan terjadi pada tahun ini dan tahun 2009.

"Ini karena pada tahun-tahun yang lalu, kita belum membangun kembali pembangkit listrik, meskipun sudah terjadi peningkatan konsumsi listrik," jelas Wapres Kalla. "Jadi, selain akan selesainya pembangkit listrik 10.000 MW pada akhir 2009 dan 2012 mendatang, juga akan selesai pembangkit listrik baru yang setiap tahunnya kita harapkan berkapasitas 4000 MW," demikian Wapres Kalla.  (har)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau