JAKARTA,SENIN- Negara kaya minyak, Brunei Darussalam akhirnya sadar, bahwa persediaan minyak yang ada di dalam perut negara itu semakin menipis. Pemerintah Brunei meminta warganya untuk mengubah gaya hidup mereka dan mempersiapkan diri bila cadangan minyak dan gas mereka sudah habis.
"Ini bukan pertanyaan soal pilihan atau hak, lebih dari itu ini pertanyaan mengenai bertahan hidup," kata Menteri Energi Brunei, Awang Yahya, pekan lalu, seperti dikutip AP
Yahya menekankan, minyak dan gas tidak hanya sekedar sebagai sumber energi untuk kesultanan kecil di Pulau Kalimantan itu, namun merupakan urat nadi Brunei. Menurutnya, 94 persen pendapatan Brunei, 96 persen penerimaan ekspor, 74 persen investasi serta 69 persen produk domestik bruto berasal dari sektor migas.
Beberapa pejabat menyebutkan warga Brunei merasa berpuas diri karena harga bahan bakar sepenuhnya di subsidi oleh pemerintah. Warga Brunei juga tidak perlu membayar pajak pendapatan meskipun mempunyai pendapatan yang tinggi, mereka juga menikmati fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis. "Banyak hal yang harus diubah, khususnya gaya hidup konsumsi energi yang besar dan boros," aku Yahya.
Baru-baru ini pemerintah Brunei mengumumkan adanya diversivikasi kebijakannya, termasuk pendayagunaan batubara yang selam ini diabaikan serta pembangunan pabrik methanol yang besar.
Para ahli memperkirakan cadangan minyak negara itu tinggal 25 tahun, sementara cadangan gas diprediksi cukup untuk 40 tahun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang