Krisis di AS Mengancam Stabilitas Inflasi Indonesia

Kompas.com - 25/02/2008, 07:31 WIB

Ancaman krisis di Amerika Serikat tampaknya sudah di depan mata. Memang tak ada yang tahu akan separah apa krisis tersebut. Namun, banyak pihak memperkirakan bentuk gejolak yang bakal terjadi akan menjelma sebagai perlambatan pertumbuhan ekonomi negara superpower ini.

Tanggal 10 Januari 2008, Gubernur The Federal Reserve Ben Bernanke sudah mengonfirmasikan kepada senat bahwa perlambatan ekonomi negara itu telah semakin mendekat. Bernanke menggambarkan perekonomian AS akan memburuk pada 2008 akibat gejolak di pasar perumahan, kenaikan harga minyak, dan melemahnya pasar saham.

Para ekonom dari Goldman Sach mendefinisikannya sebagai tanda-tanda awal terjadinya resesi ekonomi di AS. Tinggal menunggu waktunya saja.

Di dalam negeri, kalangan pemerintah sebenarnya sudah mulai sadar pada kondisi itu. Jauh- jauh hari, pada pertengahan November 2007, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono kerap menjelaskan bakal adanya gejolak perekonomian di AS pada 2008.

Namun, Boediono masih percaya tak akan ada resesi, hanya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Perlambatan ekonomi bisa berarti banyak hal. Salah satu yang dipercaya akan terjadi adalah melemahnya daya beli penduduk Amerika.

Apa dampaknya bagi Indonesia? Ekspor Indonesia akan terpengaruh, industri dalam negeri akan meradang, yang pada ujungnya akan meningkatkan angka pengangguran.

Jika permintaan luar negeri berkurang, industri akan melakukan penyesuaian, antara lain mengurangi produksi. Jika produksi dikurangi, bisa jadi tenaga kerja pun akan dikurangi. Penganggur akan lebih banyak lagi, kemiskinan bisa melonjak. Artinya, jika AS sakit, Indonesia bisa langsung terkena getahnya.

Coba tengok angka-angka ekspor nonmigas Indonesia ke AS selama ini yang tercatat di Badan Pusat Statistik dan diolah kembali oleh Departemen Perdagangan. Sekilas terlihat betapa produk Indonesia sangat bergantung pada pasar Amerika karena ekspor Indonesia ke negara itu menduduki peringkat kedua terbesar setelah Jepang.

Ekspor nonmigas Indonesia ke AS meningkat dari 7,17 miliar dollar AS pada 2002 menjadi 10,68 miliar dollar AS pada 2006 atau meningkat 11,74 persen. Selama Januari-Agustus 2007, ekspor ke AS sudah mencapai 7,48 miliar dollar AS atau meningkat 5,14 persen daripada periode yang sama tahun 2006. Itu artinya, peran ekspor ke AS terhadap total ekspor nonmigas Indonesia mencapai 12,45 persen, setingkat di bawah ekspor ke Jepang yang mencapai 15,36 persen.

Pemerintah menyarankan para eksportir agar secepatnya mencari pasar baru di luar AS. Arahkan ke pasar Asia, terutama negara-negara berkembangnya, yang diperkirakan perekonomiannya masih bisa tumbuh.

Coba lihat inflasi

Di lihat dari sisi harga barang, Indonesia pun belum aman dari potensi tekanan inflasi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu dalam sebuah tulisannya mengungkapkan, adanya beberapa risiko yang mungkin menyebabkan tekanan terhadap laju inflasi tahun 2008.

Risiko itu, pertama, proses konsolidasi pasar finansial global terkait dampak krisis subprime mortgage masih belum dapat dipastikan mereda. Kedua, risiko terkait kenaikan harga minyak dunia. Ketiga, potensi peningkatan permintaan konsumsi minyak domestik di atas asumsi, terutama yang dipicu tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dengan BBM nonsubsidi maupun harga BBM di negara tetangga.

Keempat, kemampuan produksi minyak domestik yang tidak sesuai target. Kelima, persepsi pelaku ekonomi terhadap prospek kesinambungan fiskal dan prospek perekonomian secara keseluruhan terkait dampak kenaikan harga minyak dunia. Kelima risiko itu merupakan ancaman yang bisa membebani pencapaian target inflasi pada 2008 yang ditetapkan 5 persen dengan deviasi 1 persen. Namun, itu ada obat pencegahnya.

Obat pencegah laju inflasi itu pada dasarnya ada lima. Pertama, kemampuan dalam menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan (output gap). Kedua, menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Ketiga, menjaga agar ekspektasi inflasi berada pada level yang rendah. Keempat, meminimalisasikan dampak administered price. Kelima, menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi volatile food.

Obat ini hanya bisa diterapkan jika pemerintah dan Bank Indonesia benar-benar satu kata dan bekerja sama menekan laju inflasi.

Ingat, beberapa saat setelah Forum Pengendali Inflasi yang dikomandani Menko Perekonomian dibentuk 3 Januari 2008 (termasuk menetapkan target inflasi tahun ini 5 plus minus satu), BI malah melihat ada kemungkinan inflasi melonjak di atas 6 persen pada akhir 2008.

Inflasi harus menjadi perhatian utama karena merupakan potret yang terjadi di tengah masyarakat. Semakin tinggi laju inflasi, maka semakin rendah kesejahteraan masyarakat karena nilai setiap sen uang yang dipegang orang terus menurun. Daya beli melorot. Jadi, jika ekonomi dunia meradang, orang miskin Indonesia pun bisa jadi semakin miskin. (Orin Basuki/Kompas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau