Maret, Lembaga Konsultan BTN Tuntas Bekerja

Kompas.com - 25/02/2008, 12:25 WIB

Laporan wartawan Kompas Haryo Damardono

JAKARTA, SENIN- Direktur Utama Bank Tabungan Negara Iqbal Latanro mengatakan, arah BTN ke depan sedang disurvei oleh Lembaga Konsultan Independen yang bekerja sejak 13 Februari 2008 hingga 13 Maret 2008.

"Nanti hasilnya, akan dipresentasikan di depan pemerintah sebagai pemegang saham sehingga dapat diputuskan arah BTN ke depan," kata Iqbal, saat diminta bicara dihadapan Komisi V DPR RI, Senin (25/2).

Hadir pula di Komisi V Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asy'ary, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Siti Fadjiah.

Fokus pembicaraan adalah mengenai BTN. Pilihan yang akan diterapkan kepada BTN di masa mendatang adalah penawaran umum saham (Initial Public Offering), atau pengakuisisian oleh bank-bank BUMN. Anggota Komisi V Malkan Amin mengatakan, seharusnya survei dan kajian jangan hanya semata-mata terhadap kebutuhan pembiayaan, tetapi terhadap bagaimana cara terbaik untuk mendukung kepemilikan rumah bagi masyarakat menengah ke bawah.

"Kami mendorong BTN secepatnya IPO, atau mencari pinjaman dari luar negeri untuk mendukung pembiayaan. Terhadap keberadaan BTN, merujuk pada Arsitektur Perbankan Indonesia, maka keberadaan BTN sebagai bank yang berdiri sendiri sudah pas," kata Yusuf Asy'ary, yang diberi kesempatan pertama kali untuk berbicara.

Meski demikian, Sofyan Djalil menegaskan, bila IPO maka kepemilikan saham pemerintah di BTN dapat terus menurun ketika pemerintah tidak menambah permodalannya. "Andaikata akuisisi maka jangan diragukan fungsi dan arah BTN untuk pembiayaan terhadap masyarakat menengah ke bawah. Sebab, kita dapat saja mempertahankan satu persen saham sebagai golden share, sehingga nanti ada veto pemerintah untuk menentukan arah BTN," kata Sofyan.

Anggota Komisi V Enggartiasto Lukita menyangsikan keektifitasan golden share, bercermin kepada kasus perusahaan telekomunikasi Indosat. "Untuk belanja modal, kecuali beli kopi misalnya, Indosat harus meminta izin Singapura. Saya khawatir ini akan terjadi di BTN bila ada akuisisi," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau