LONDON,SELASA - Laporan lembaga pemeringkat kredit internasional Moody’s Investors Service, Selasa (26/2), menunjukkan perbankan Syariah saat ini terus berkembang pesat dan tidak ada tanda-tanda pelambatan. Tahun ini volume perbankan Syariah diperkirakan tumbuh 30-35 persen, didukung tingginya minat dari di luar negara-negara Islam, seperti Jepang, Thailand dan Inggris.
Menurut Islamic Financial Services Board, tumbuhnya perekonomian di negara-negara Islam yang didorong tingginya harga minyak, menjadi salah satu faktor pendorong sistem keuangan Islam tumbuh pesat, sekitar 15 persen pertahun dalam tiga tahun terakhir ini dan secara global bernilai 700 miliar dollar AS.
Sedangkan volume obligasi syariah mencapai 97,3 miliar dolar AS pada tahun 2007, dengan mayoritas transaksi terjadi di Malaysia dan negara-negara Teluk Arab. Disebutkan laporan itu, meski tahun lalu di wilayah Eropa dan Afrika tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, namun tahun ini di wilayah itu sudah tumbuh minat yang besar terhadap perbankan syariah.
Tahun lalu, volume penerbitan obligasi syariah tumbuh 71 persen senilai 32,65 miliar dollar AS, dengan volume transaksi mencapai 269,8 juta dollar AS, naik dibandingkan tahun 2006 senilai 175 dollar AS.
Perbankan Syariah yang memadukan prinsip-prinsip Syariah atau ketentuan Islam dan perbankan modern, namun fund-fund Syariah melarang investasi di perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan rokok, alkohol atau judi yang dipertimbangkan tabu oleh orang-orang Muslim.
Menurut Moody's, perbankan syariah memang belum kebal terhadap gejolak pasar finansial dunia, terbukti dengan adanya penundaan beberapa penerbitan obligasi syariah. (Dow Jones)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang