Impor Barang Elektronik Melonjak 58 Persen

Kompas.com - 26/02/2008, 17:11 WIB

JAKARTA,SELASA - Impor barang elektronik melonjak sekitar 58,4 persen menjadi sekitar 3,6 miliar dollar AS pada periode Januari-September 2007 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 2,3 miliar dollar AS.

Direktur Industri Elektronika Departemen Perindustrian (Depperin) Abdul Wahid seperti dikutip Antara, di Jakarta, Selasa (26/2), mengatakan, sebagian besar impor produk elektronik tersebut merupakan produk yang belum diproduksi di dalam negeri. "Banyak produk elektronik untuk bisnis dan komponen elektronik yang masih diimpor," katanya. 
       
Abdul Wahid mengatakan, ketergantungan impor komponen elektronik di Indonesia masih sangat tinggi mencapai sekitar 80 persen, karena banyak minimnya peningkatan nilai tambah sumber daya alam Indonesia untuk diolah menjadi komponen industri.

Ia mengatakan sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya alam yang bisa menjadi komponen industri khususnya elektronik, seperti karet, keramik, dan plastik. Namun, akibat minimnya pengkayaan sumber daya alam domestik, maka komoditas yang bisa menjadi keunggulan untuk mendukung industri di Indonesia justru diekspor dalam keadaan mentah.

Selain itu, ia mengakui belum harmonisnya tarif bea masuk antara produk jadi dengan komponennya, juga menyebabkan minimnya daya saing produk elektronik nasional terhadap produk impor, terutama dari China. "Produk lemari es misalnya tarif BM sebesar 15 persen, namun bahan bakunya seperti baja lembaran mencapai 12,5 persen. Dalam keadaan demikian produk dalam negeri sulit bersaing," katanya.
    
Oleh karena itu, lanjut dia, Depperin bersama Departemen Keuangan (Depkeu) terus membahas masalah harmonisasi tarif antara produk jadi dan komponennya guna meningkatkan daya dukung terhadap pengembangan industri elektronik maupun industri produk jadi lainnya di dalam negeri. Harmonisasi tarif, dinilainya, sangat penting untuk mendorong pertumbuhan industri yang tengah melambat dalam tiga tahun terakhir ini. 

Abdul Wahid mengatakan salah satu program jangka pendek untuk mendongkrak kinerja industri elektronik tahun ini adalah mendorong harmonisasi tarif dan penghapusan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk berbagai produk elektronik dengan harga di bawah Rp25 juta per unit.  "Kami memproyeksikan dengan harmonisasi tarif dan penghapusan PPnBM, maka industri elektronik nasional mampu tumbuh signifikan tahun ini," ujarnya.  Depperin sendiri memproyeksikan industri elektronik mampu menyumbang pendapatan ekspor non migas sebesar delapan miliar dollar AS tahun 2008.
    
Hal senada dikemukakan Ketua Umum Gabungan Industri Elektronik Indonesia (GABEL) Rachmat Gobel. Ia mengatakan peningkatan impor barang elektronik terjadi karena pasar domestik Indonesia yang besar tidak mampu sepenuhnya diisi oleh produk elektronik. "Produk impor menjadi lebih murah, karena disharmonisasi tarif. Padahal produk elektronik yang diproduksi di Indonesia tetap mampu bersaing di pasar ekspor, tapi sulit bersaing di negeri sendiri, karena tarifnya tidak harmonis," ujarnya.
   
Oleh karena itu, GABEL mendesak pemerintah cq Depkeu segera melakukan harmonisasi tarif serta penghapusan PPnBM agar produk dalam negeri bisa bersaing, mengingat banyak produk elektronik impor masuk secara illegal baik secara penyelundupan fisik maupun administrasi melalui underinvoice.

Berdasarkan data BPS yang diolah Departemen Perindustrian (Depperin), pada Januari-September 2007, impor elektronik terbesar adalah produk elektronika bisnis/industri mencapai 2,15 miliar dollar AS, kemudian impor komponen elektronik dan bagian lainnya sebesar 934,3 juta dollar AS, dan elektronik konsumsi mencapai 513,8 juta dollar AS. Sejak tahun 2002 sampai 2006 impor barang elektronik menunjukkan tren meningkat rata-rata sekitar 23,2  persen. Pada 2002 impor barang elektronik mencapai sekitar 1,5 miliar dollar AS naik menjadi 1,8 miliar dollar AS pada 2003, dan terus meningkat menjadi 2,7 miliar dollar AS pada 2004, kemudian menjadi 3,16 miliar dollar AS pada 2005.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau