Semburan Gas Baru, Api Menjulang 7 Meter

Kompas.com - 26/02/2008, 20:01 WIB


SIDOARJO, SELASA -  Sebuah semburan gas kembali muncul di bekas kios di bekas Pasar Buah Jatirejo di Jalan Raya Jatirejo-Porong. Semburan ini membuat panik karena disertai kobaran api, Selasa (26/2).

Selain di kios buah, ada juga semburan yang muncul tak jauh dari situ, tepatnya di belakang toko perlengkapan outdoor Maha Arjuno yang sudah kosong. Api di semburan ini lebih besar yaitu mencapai 7 meter dan sulit dipadamkan. Namun belum diketahui apa atau siapa penyulut api di sumber semburan gas itu.
    
Semburan api yang sudah kedua kalinya di bekas Pasar Buah itu, diketahui berkobar sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. “Kobaran diketahui oleh petugas Danramil sekitar pukul 04.00 WIB,  Saya baru tahu sekitar pukul 04.30 WIB,”  jelas Humas Badan Penanggulangan lumpur Sidoarjo (BPLS) Akhmad Zulkarnain di lokasi kejadian.
    
Petugas BPLS dan aparat Kepolisian yang datang ke lokasi langsung melakukan penanganan. Dua unit mobil PMK yang ada dilokasi kesulitan untuk memadamkan api, meskipun air yang ada didalam tanki mobil PMK itu sudah dicampur deterjen untuk menjinakkan api.
    
Karena belum juga padam, petugas BPLS mendatangkan sirtu, upaya ini diharapkan dapat menjinakkan semburan api, tapi hingga sore hari sekitar pukul 15.00 WIB. Semburan api tersebut juga belum padam dan petugas pun tidak dapat berbuat banyak. Bahkan air detergen yang tumpah dan menggenang dilantau kion itu juga ikut terbakar.
    
Semburan api tersebut menarik perhatian warga sekitar juga pengguna jalan yang kebetulan lewat di depan Pasar Buah Jatirejo. Namun warga sekitar enggan berkomentar  terkait awal mula semburan api tersebut.
    
Petugas pemantau dan analisa gas dari PT Fergaco, yang terus memantau kejadian tersebut menjelaskan bahwa sehari sebelumnya hasil pengukuran yang dilakukan batas LEL (Low Eksplosif Limit) kandungan gas mudah terbakar mencapai sekitar 72 persen. “Tapi kalau sekarang ini kira-kira sudah mencapai 100 persen,” terang Firman Wahyudi, dari PT Fergaco.
      
Pihaknya belum bisa memastikan berapa volume kandungan gas yang keluar dari semburan baru itu karena untuk mendekati lokasi tersebut cukup sulit lantaran hawa panas.    “Kami tidak dapat mengukur kandungan gas yang keluar dari semburan itu, karena apinya masih besar,” terangnya.

Menurutnya, ada sejumlah kandungan gas yang keluar dari semburan baru itu seperti metan, H2S dan yang berbahaya adalah gas mudah terbakar.
    
Solihah, warga Desa Jatirejo Barat, yang melihat di lokasi kemarin mengaku resah dengan munculnya semburan api yang sulit dipadamkan. Ia khawatir, api tersebut menjalar ke rumah warga lainnya yang berada didekatnya.
    
Sementara itu Herman Samin, koordinator korban lumpur dari Paguyupan Pasar Buah Jatirejo, sempat melarang petugas BPLS untuk melakukan aktivitas penanganan semburan api di lokasi miliknya, karena menurutnya sampai saat ini belum ada kejelasan terkait kios-kios di Pasar Buah Jatirejo itu

Kasat Reskrim Polres Sidoarjo AKP Isbari yang berada di lokasi juga belum dapat berbuat apa-apa. Petugas masih menunggu api padam baru melakukan penyelidikan. Terkait apakah ada yang menyulut disekitar lokasi semburan. “Logikanya memang demikian, tapi kami masih mencari bukti-buktinya dulu di lokasi,” tambahnya.

Sekitar pukul 16.00 WIB, semburan api berhasil dijinakkan, setelah petugas PMK dari Pemkab Sidoarjo yang sejak pagi berada dilokasi menggunakan bahan kimia kering (Dry Chemical Cleaning)  untuk menjinakkan api.

Sebelumnya di tempat yang sama juga pernah terjadi semburan api. Saat itu pada Tanggal 13 Februari 2008 Ny Lilik sedang memasak mi di sekitar lokasi. Jarak tempatnya dengan lokasi semburan tersebut sekitar 10 meter. Saat ia menyalakan kompor, tiba-tiba kandungan gas yang berada di lokasi tersebut juga ikut tersulut hingga menyebabkan ia luka bakar dan dirawat di Puskesmas Porong.(Surya/iit)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau