Harga Minyak Goreng Kembali Naik, Pedagang Makanan Kelimpungan

Kompas.com - 27/02/2008, 20:45 WIB

TEGAL, RABU -- Harga minyak goreng di Kota Tegal kembali naik. Hal itu mengakibatkan sejumlah pedagang makanan kian kelimpungan. Sebagian terpaksa menaikkan harga makanan, sebagian lainnya hanya mengurangi takaran atau ukuran makanan.

Kenaikan harga minyak goreng seperti terlihat di Pasar Pagi Kota Tegal, Rabu (27/2). Hanifah (32), pedagang sembako di Pasar Pagi Kota Tegal mengatakan, kenaikan harga minyak goreng terjadi terus-menerus, selama dua pekan terakhir. Setiap hari, harga minyak goreng naik sekitar Rp 100 hingga Rp 200 per kilogram.

Saat ini, harga minyak goreng curah kualitas pertama mencapai Rp 14.500 per kilogram, sedangkan harga miyak goreng curah kualitas kedua Rp 11.700 per kilogram. Lima hari sebelumnya, harga minyak goreng curah kualitas pertama Rp 13.800 per kilogram, sedangkan minyak goreng curah kualitas kedua Rp 11.000 per kilogram.

Menurut dia, kenaikan harga minyak goreng menyebabkan penurunan penjualan hingga mencapai sekitar 30 persen. Terlebih saat ini, harga berbagai bahan kebutuhan pokok lainnya juga masih tinggi. Harga telur Rp 10.000 per kilogram, sedangkan harga gula pasir Rp 6.000 per kilogram.

Selain itu, harga cabai dan berbagai jenis sayuran lainnya juga naik. Idah (28), pedagang sayuran di Pasar Pagi Kota Tegal mengatakan, kenaikan harga cabai terjadi sejak sepekan lalu. Hal itu diperkirakan akibat pengaruh hujan dan banjir, yang mengakibatkan berkurangnya panen.

Harga cabai merah naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 14.000 per kilogram, sedangkan harga cabai rawit naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 11.500 per kilogram. Harga kentang juga naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.000 per kilogram.  

 

Pedagang Makanan Kelimpungan

Kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok tersebut menyebabkan sejumlah pedagang makanan kian kelimpungan. Rospita (20), pedagang makanan di Kelurahan Randugunting, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal mengaku semakin sulit mendapatkan keuntungan.

Akibat kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok, ia terpaksa menaikkan beberapa jenis makanan, seperti gorengan dan sayuran kering. Kenaikan harga makanan sekitar 20 persen.

Namun hal itu mengakibatkan penurunan penjualan hingga mencapai hampir 30 persen. Waktu berjualannya juga lebih lama. Biasanya ia berjualan mulai pukul 09.00 hingga 14.00 wib, namun saat ini harus diperpanjang hingga pukul 17.00 wib.

Wati (25), pedagang makanan lainnya di Kelurahan Bandung, Kecamatan Tegal Selatan juga mengeluhkan hal sama. Meskipun demikian, ia mengaku tidak berani menaikkan harga jual makanan. Saat ini yang dilakukannya hanyalah mengurangi ukuran makanan.

Menurut dia, apabila kenaikan harga bahan kebutuhan terus naik, pedagang makanan terancam tidak dapat melangsungkan usaha. Kenaikan harga kebutuhan pokok yang berlangsung terus-menerus , tidak dapat diimbangi dengan kenaikan harga makanan. Apabila dipaksakan, pedagang akan kehilangan pembeli.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau