Isu Susu Beracun, Masyarakat Resah tapi Tetap Beli

Kompas.com - 28/02/2008, 15:47 WIB

JAKARTA, KAMIS - Isu tentang ditemukannya bakteri enterobacter sakazakii pada sejumlah produk susu formula dan makanan bayi memang membuat masyarakat yang memiliki balita resah, namun pada faktanya kebutuhan akan susu cukup mendesak.

Widi, perempuan yang memiliki bayi berusia 9 bulan,  mengaku ketar-ketir dengan merebaknya isu susu formula yang mengandung racun. Namun begitu, Widi tetap memilih untuk memberi susu yang direkomendasikan oleh dokter pribadinya. "Saya sebenarnya ngeri juga, kan itu juga belum diumumin ya apa aja (produknya), tapi kalo saya emang tetep pakai susu yang direkomendasi dokternya sejak lahir. Takut juga ya, soalnya kan itu ke otak. Tapi untungnya, kemarin anak saya baru diimunisasi untuk selaput otak, jadi agak tenang," ujarnya ketika ditemui di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Lebak Bulus, Kamis (28/2).

Sementara itu, Rahma, perempuan yang memiliki dua orang anak yang sedang berbelanja beberapa produk susu di salah satu pusat perbelanjaan di Permata Hijau juga mengaku was-was hingga merembet ke produk susu yang lain, yaitu susu untuk ibu hamil karena kandungannya sudah mencapai 5 bulan. Dia juga kini lebih berhati-hati dengan mengendalikan pembelian jumlah susu.

"Khawatir juga sih. Tapi masalahnya kan kita di rumah minum susu terus. Saya juga lagi hamil begini, kan jadi takut kalau salah-salah. Sekarang aja saya beli susunya dikit-dikit dulu, biar nanti kalau diumumin ternyata salah, nggak rugi-rugi amat. Biasanya langsung beli empat kotak yang 800 gram. Sekarang beli kemasan yang 400 gram aja, satu-satu," ujarnya.

Kebingungan msyarakat terhadap isu susu beracun memang beralasan karena informasi yang tidak jelas dari pemerintah maupun pihak peneliti. "Saya juga ngeri. Tapi saya bingung, itu khusus susu bayi aja atau juga untuk anak-anak umur segini (umur 7 tahun). Saya juga milih-milih jadinya, kira-kira apa ya. Tapi bingung juga pertimbangannya apa," ujar Lita bingung ketika memilih-memilih produk susu.

Sementara itu, menurut Wati, salah satu (Sales Promotion Girl (SPG) susu di salah satu pusat perbelanjaan di Permata Hijau, tidak ada perubahan jumlah dan pola pembelian konsumen susu formula dan makanan bayi. "Banyak sih yang nanya tentang isu itu, susu mana yang beracun. Saya kan SPG aja, jadi nggak tahu apa-apa. Jadi mereka langsung nanya ke Sales Managernya. Tapi setelah itu, mereka tetap beli juga susu yang biasa dipakai," kata Wati.

Wati juga menambahkan distribusi susu ke tempatnya bekerja juga normal, tidak ada penurunan jumlah produk susu yang masuk untuk dijual. (C2-08)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau