Usai Dilahirkan Prematur, Jatuh dari KA

Kompas.com - 28/02/2008, 22:39 WIB

AHMADABAD, KAMIS - Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Namun, frasa tadi bukan untuk mengantarkan maksud menonjolkan kemalangan yang datang berturut-turut, tetapi lebih kepada muzizat  yang dialami oleh seorang bayi perempuan yang dilahirkan prematur dan terjatuh dari atas kereta api sebelum diketemukan hampir 2 jam kemudian dalam keadaan hidup di India.

Kisah ini dimulai dari perjalanan seorang ibu hamil, bernama Bhuri, yang bersama keluarganya menumpangi kereta api senja Selasa (26/2). Memasuki tengah malam, Bhuri menyempatkan diri untuk buang hajat di atas sebuah toilet kereta api. Namun, di luar dugaan, Bhuri justru melahirkan bayi perempuan yang dikandungnya.

"Sang ibu tidak sadarkan diri setelah bersalin dan sang bayi yang secara tidak disengaja terlahir prematur langsung terperosok ke dalam toilet yang pembuangannya terhubung langsung ke rel kereta api di bawahnya. Setelah 2 stasiun kereta api dilalui, kami mengetuk pintu toilet," kisah Arjun Kumar, saudara ipar Bhuri. Menurut Kumar, Bhuri yang nampak bersimbah darah kemudian membukakan pintu toilet dan menceritakan telah melahirkan bayinya yang terjatuh ke rel kereta api.
       
Menurut Kumar, setelah mendengar pengakuan Bhuri, pihak keluarga mereka memutuskan segera menarik rem darurat kereta api dan kemudian menjelaskan ke petugas kereta api mengenai apa yang telah terjadi. Pencarian bayi yang dilahirkan prematur tersebut kemudian segera dilaksanakan dan salah seorang petugas di salah satu stasiun kereta api yang telah dilintasi tidak berapa lama kemudian melaporkan penemuan sang bayi.
      
" Bayi ini terbaring di atas rel kereta api selama hampir satu setengah hingga dua jam," kata Dr. Gautam Jain, seorang dokter anak Rumah Sakit Rajasthan di Ahmadabad, di negara bagian Gujarat. Bayi yang bersama ibunya telah mendapatkan perawatan di RS Rajasthan ini belum diberikan nama dan berberat badan 1,46 kilogram.

"Denyut jantung dan temperatur tubuh bayi perempuan ini rendah. Kami tidak yakin bayi yang terlahir prematur 10 minggu ini dapat bertahan hidup," kata Dr. Gautam Jain. (AP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau