Pengedar Sabu-Sabu di Asrama Kodam Dibekuk

Kompas.com - 29/02/2008, 21:07 WIB

MEDAN, JUMAT - Seorang ibu rumah tangga Kristina Agustina, yang diduga menjadi pengedar sabu-sabu di Komplek Perumahan Asrama Kodam I Sunggal Medan, dibekuk tim intelpam dari Kodim 0201/BS Medan, Jumat (29/2). Petugas juga menciduk kakak ipar tersangka, Ucok Liberty dan seorang penjual madu M Sastra yang diduga ikut terlibat dalam jaringan peredaran narkoba di Komplek Perumahan Asrama Kodam I Sunggal Medan.

Menurut Pasi Intel Kodim O201/BS Kapten (inf) Donald Panjaitan, timnya sudah lama memburu otak peredaran narkoba di komplek perumahan Asrama Kodam I Sunggal. Dia mengakui, selama ini memang sering mendengar ada jaringan pengedar narkoba di komplek perumahan Asrama Kodam I Sunggal. "Begitu ada informasi, saya langsung lapor Dandim dan menyusun anggota. Tim pertama sempat berhasil membeli satu paket sabu-sabu, begitu berhasil langsung saya minta tim kedua langsung menangkap pelaku," ujar Donald.

Tim kedua datang menumpang sebuah truk. Mendekati rumah tersangka, dengan perlahan tim turun dari bak truk agar tak diketahui pelaku. Namun rupanya salah seorang tersangka yang diketahui bernama Indra sempat mengetahui aksi petugas. Indra berhasil meloloskan diri dari belakang rumah Kristina setelah berhasil meloncati tembok setinggi hampir lima meter.

Menurut Donald, Kristina diduga kuat selama ini berperan tak hanya sebagai pengedar saja, tetapi dia juga merupakan salah satu bandar besar narkoba di komplek perumahan Asrama Kodam I Sunggal. "Berdasarkan cerita Ucok dan Sastra, memang kami menduga kuat Kristina selama ini adalah salah satu bandar," katanya.

Namun Kristina masih tetap tak mau mengakui perbuatannya. Selain menolak dituduh sebagai Bandar sabu-sabu di komplek perumahan Asrama Kodam I Sunggal, Kristina juga mengatakan tak pernah memakai barang haram tersebut. "Saya bersedia dites bila perlu," ujarnya.

Dia pun mengatakan bahwa barang-barang yang berhasil disita petugas intel Kodim 0201 tersebut bukan merupakan kepunyaannya. Dia menyebut empat paket sabu yang berhasil disita itu sebagai milik Indra.

Keterangan berbeda diberikan Ucok. Menurut dia, adik iparnya tersebut memang merupakan salah satu Bandar. Ucok membenarkan jika di komplek perumahan Asrama Kodam beberapa kali terjadi transaksi narkoba. "Saya tidak tahu berapa kali, yang jelas memang pernah terjadi," kata Ucok yang mengaku sudah lebih dari 20 tahun tinggal di komplek tersebut.

Terkait dugaan transaksi narkoba marak terjadi di Asrama Kodam I Sunggal, Donald mengatakan, jajarannya akan bertindak tegas. Termasuk jika ada oknum TNI yang terlibat "Selama saya masih di sini, saya sikat semua itu. Mereka Cuma bikin rusak anak-anak saja. Kalau ada oknum TNI yang terlibat, kita langsung ambil tindakan tegas. Kami serahkan langsung mereka ke POM," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau