Ponsel Murah Laris Manis di Jakarta

Kompas.com - 04/03/2008, 01:17 WIB

JAKARTA, SELASA-Daya beli masyarakat yang semakin melemah terlihat di pusat perdagangan telepon seluler (ponsel) di bilangan Roxy, Jakarta Pusat. Salah satu indikasinya yaitu ponsel yang harganya di bawah Rp 1 juta laku keras, dan untuk harga di atas Rp 2 juta semakin jarang dibeli. "Kalau ditanya mana yang laris. Sekarang ini ponsel yang harganya sekitar Rp 500.000 yang paling laris," ujar Sutanto, pegawai kios ponsel Telemedia di lantai dasar Roxy, Senin (3/3).

Sebagai perbandingan, kata dia, ponsel yang harganya sekitar Rp 500.000 bisa laku 10 unit/hari. Tapi, yang harganya di atas Rp 2 juta, paling banyak laku 2 unit. Apalagi yang harganya di atas Rp 5 juta, sudah jadi barang paling langka ditransaksikan Beberapa ponsel Nokia yang saat ini digemari, antara lain Nokia 1200 harganya Rp 430.000, Nokia 1112 Rp 450.000, dan Nokia 1110 yang harganya Rp 400.000.

Menurut Sutanto, sekarang ini masyarakat lebih mementingkan fungsi ponsel dan harganya, ketimbang fitur yang berimbas pada harga ponsel menjadi lebih mahal. "Walaupun layarnya hitam putih tetap jadi pilihan, yang penting harganya murah. Apalagi ponsel yang ada kamera, radio, atau TV, sudah jadi barang mewah. Cuma dibeli orang yang kebanyakan duit. Sekarang ini yang penting bisa telepon dan SMS sudah cukup," katanya.

Hampir sama dikemukakan Ashar, rekan Sutanto. Saat ini masyarakat sudah lebih sadar akan fungsi ponsel dan bukan untuk gengsi-gengsian. "Kalau Lebaran kemarin, memang ponsel yang dibeli agak mahalan berkisar Rp 1 juta. Kalau sekarang yang laris di bawah Rp 1 juta," katanya.

Ia menambahkan, ketertarikan masyarakat akan ponsel yang lebih murah, bisa dilihat saat Esia mengeluarkan paket bundling (paket HP berikut kartunya) seharga Rp 199.000. Kendati di pasaran harganya bisa melonjak menjadi Rp 260.000, ponsel tersebut tetap laris manis. Kendati Esia yang berbasis CDMA (Code Division Multiple Accesss) begitu disukai masyarakat, namun pedagang ponsel di Roxy mengatakan bahwa secara keseluruhan ponsel GSM (Global System for Mobile Communications) masih lebih tinggi peminatnya.

"Masih lebih banyak GSM, tapi CDMA memang sudah mulai banyak peminatnya. Kalau sekarang 60 persen dikuasai GSM dan 40 persen CDMA. Kalau tahun lalu kan CDMA masih di bawah 40 persen," ujar Lina teman Sutanto.

Banyak pilihan

Pantuan Warta Kota hari Senin, secara keseluruhan situasi di Roxy tidak terlalu ramai, banyak terlihat kios yang tidak didatangi pengunjung. Sehingga karyawan atau pemilik kios terlihat menganggur. "Yah memang begini kalau hari kerja. Kalau hari Sabtu atau Minggu baru agak ramai. Roxy memang pusat jual-beli ponsel, tapi kan sekarang banyak tempat lain yang juga jual ponsel, jadi masyarakat punya pilihan," kata Lina.

Menurutnya, sampai menjelang Lebaran mendatang, situasi Roxy diperkirakan seperti sekarang ini. Tidak terlalu ada lonjakan atau penurunan. "Nanti kalau bulan Puasa lebih ramai lagi. Banyak yang beli atau yang jual," ujar Lina sambuil menambahkan menjelang Lebaran tahun lalu, terjadi kenaikan penjualan di atas 80 persen dibanding hari biasa. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau