BANDA ACEH, SELASA - Juru bicara Yayasan Leuser Internasional (YLI) Chik Rini di Banda Aceh, Selasa, menyatakan, terancam punahnya harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) disebabkan perusakan habitat dan perburuan terhadap satwa tersebut semakin marak terjadi.
Disebutkan, selama tahun 2007, diketahui 10 harimau ditangkap masyarakat di Kecamatan Labuhan Haji Timur, Meukek, Samadua dan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Tujuh ekor ditangkap melalui kandang perangkap dibantu pawang, dua ekor dijerat dan satu ditembak dengan senjata api.
Penangkapan dan penembakan dilakukan dengan alasan harimau mengganas dan telah memangsa enam warga masyarakat, katanya. Harimau sumatera merupakan satwa "terrestrial carnivora" terbesar dari semua kumpulan mammalia di Asia Tenggara. Kemampuan reproduksi harimau sebenarnya cukup baik bila mereka hidup di habitat yang cocok. Masa kehamilannya pendek yaitu hanya 103 hari, beranak relatif cepat dan memasuki masa oestrus yang cepat pula.
Jenis satwa ini dikategorikan sangat langka, IUCN (International Union Conservation Nature) menetapkan dalam kategori Endangered Species (genting) dan dimasukkan dalam Red Data Book Species Appendix I CITES.
Populasinya menghadapi tekanan hebat akibat kehilangan habitat, mangsa, perburuan kulit dan manfaat bagian tubuh untuk pengobatan tradisonal China.
Chik Rini menyatakan selama monitoring tahun 2007 ditemukan 142 tanda-tanda keberadaan harimau sumatera di dalam Kawasan Leuser, meliputi 53 tanda temuan di Kabupaten Aceh Selatan, 67 tanda temuan di Kabupaten Aceh Tenggara, 18 tanda temuan di Kabupaten Gayo Lues dan empat tanda temuan di Kabupaten Aceh Timur.
Ke 142 tanda temuan tersebut meliputi empat temuan cakaran, 51 temuan feses, 40 temuan jejak, 45 temuan kaisan, satu kali jumpa langsung dan satu temuan bekas pakan.
Dari sembilan spesies harimau di dunia, dua spesies dari Indonesia sudah punah, yakni harimau Bali (Panthera tigris balica) dan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang