PT Inco Krisis Listrik

Kompas.com - 04/03/2008, 13:33 WIB

MAKASSAR,SELASA - PT Inco Tbk, perusahaan tambang nikel raksasa yang beroperasi di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, sekitar 600 kilometer Timur Laut Makassar, Sulawesi Selatan, kini menghadapi kesulitan pasokan listrik untuk lima unit kilang penghasil nikel dalam matte yang dimilikinya.

"Kesulitan disebabkan menurunnya debit air danau Matano, Mahalona dan Towuti akibat musim kemarau yang telah berjalan beberapa bulan sehingga suplai air ke PLTA Balambano dan PLTA Larona merosot," kata Tri Rachman Batara, Superintendent Regional Communication PT Inco seperti dikutip Antara di Makassar, Selasa (4/3).

Menurut dia, permukaan air danau Matano turun sampai dua meter dari kondisi normal karena jarang sekali turun hujan sejak beberapa bulan terakhir, demikian pula dengan danau Mahalona dan danau Towuti yang ada di sekitarnya.

Padahal, danau Matano merupakan sumber air utama untuk PLTA Larona yang berkapasitas 165 Megawatt (MW) dan PLTA Balambano 110 MW. Ia tidak merinci berapa besar penyusutan produksi listrik kedua PLTA itu, namun mengungkapkan, perusahaan saat ini dalam kondisi siaga untuk menghadapi kemungkinan buruk akibat terus menurunnya pasokan listrik dari kedua PLTA tersebut. "Perusahaan kini gencar melakukan penghematan listrik agar suplai listrik yang ada sekarang tetap mampu memenuhi kebutuhan kilang sehingga aktivitas produksi nikel masih berjalan sesuai rencana," ujarnya.

Untuk menormalisasi air danau Matano dan dua danau kecil di sekitarnya, PT Inco dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kini mengembangkan hujan buatan dengan teknologi penyemaian awan (flare). "Alhamdulillah, sejak kemarin, hujan deras mulai turun di sekitar Sorowako dan diharapkan terus berlanjut selama sepekan ini. Hujan biasanya turun pada sore hari," ujarnya.

Pada bulan Agustus 2007 PT Inco dan BPPT menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk kerja sama lima tahun ke depan dalam pengembangan hujan buatan tersebut. Inco akan mendanai program hujan buatan mulai dari pelatihan untuk sumber daya manusia (SDM), pengembangan teknologi sampai operasional rutin sehari-hari.

Sejak 20 Desember 2007 hingga sekarang, tim hujan buatan BPPT telah menerbangkan 40 kali pesawat khusus untuk penyemaian awan di sekitar Danau Matano. Batara tidak menyebut berapa besar dana yang dikeluarkan Inco untuk proyek tersebut namun mengatakan cukup besar, karena setiap satu kali penerbangan untuk menyemai awan dibutuhkan dana puluhan juta rupiah.

PT Inco yang sebagian besar sahamnya kini dikuasai Companhia Vale do Rio Doce (CVRD) dari Brasil itu memiliki kilang nikel berkapasitas hampir 200 juta pon nikel dalam matte di Sorowako, Sulawesi Selatan. Perusahaan yang mempekerjakan sekitar 3.300 karyawan/tenaga kerja itu memproduk hampir 170 juta pon nikel dalam matte tahun 2007 lalu.

PT Inco sedang menyiapkan pembangunan sebuah kilang baru berkapasitas sekitar 48,5 juta pon nikel sehingga perusahaan tersbeut kini mulai membangun PLTA Karebe yang berkapasitas 90 MW.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau