Kerusakan Hutan Ancam Kelestarian Orangutan di Ketapang

Kompas.com - 04/03/2008, 17:55 WIB

KETAPANG, SELASA - Kerusakan hutan akibat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pembalakan liar di Kabu paten Ketapang, ditengarai sudah sampai pada taraf mengancam kelestarian orangutan (Pongo pygmaeus wumbii) dan sejumlah satwa dilindungi lainnya. Selain diburu dan dibunuh karena dianggap sebagai hama bagi tanaman sawit, orangutan juga diperjualbelikan keluar Kabupaten Ketapang melalui lima kecamatan dengan harga berkisar Rp 300.000-Rp 500.000 tiap ekor.

Kerusakan lingkungan hutan akibat pembukaan lahan sawit dan illegal logging terjadi di Desa Sungai Putri dan Tanjungpura di Kecamatan Muara Pawan, Desa Pematang Gadung di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Manismata, serta Kecamatan Jelai Hulu. Saat orangutan terdesak dan terpaksa mencari makan di perkebunan sawit, orangutan itu ditangkap atau dibunuh karena dianggap hama. "Perlu ada win-win solution dengan membuat koridor migrasi orangutan ke hutan yang masih utuh saat dilakukan pembukaan lahan," kata Hudi Danu Wuryanto, Manajer Pengembangan Kapasitas dan Pendidikan Lingkungan pada Yayasan Palung, Selasa (4/3).

Investigasi Yayasan Palung sejak 2004 menemukan sedikitnya ada 180 satwa liar dilindungi yang dipelihara dan diperdagangkan masyarakat. Di antara satwa itu, sejumlah 62 ekor jenis orangutan dan 80 ekor jenis klempiau (Hylobetes agilis). Dari jumlah itu, yang berhasil diselamatkan dan direhabilitasi hanya 58 ekor satwa liar, terdiri atas 35 orangutan, 14 klempiau, dan sembilan satwa lain.

Perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi masih marak. Bahkan teridentifikasi ada lima wilayah yang menjadi pintu keluar satwa itu dari Kabupaten Ketapang, yaitu Kecamatan Kendawangan, Ketapang, Teluk Melano, Teluk Batang, dan Sukamara.  

"Orangutan dari Ketapang banyak diperdagangkan hingga Thailand dan Malaysia melalui nelayan asing, serta ke Pulau Jawa melalui pelabuhan di  Jakarta, Cirebon, dan Semarang," kata Hudi.

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) B Prabani Setiohindrianto mengungkapkan, pembalakan liar yang masih berlangsung secara sporadis di TNGP sudah cukup mengganggu habitat orangutan dan satwa liar lain. Hingga saat ini diperkirakan ada sekitar 2.500 orangutan yang hidup di TNGP.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau