TEGAL, SELASA - Harga minyak goreng curah di Kota Tegal terus naik. Hal itu mengakibatkan lesunya penjualan komoditas tersebut di pasaran. Sejumlah pedagang mengaku bingung dan kesulitan menjalankan usaha, akibat kenaikan harga yang terjadi setiap hari.
Marketing UD SGT, distributor minyak goreng di wilayah Karesidenan Pekalongan, Hartanto, Selasa (4/3) mengatakan, dalam satu hari terakhir, harga minyak goreng curah kembali naik Rp 700 per kilogram. Saat ini, harga minyak goreng curah kualitas pertama dari distributor mencapai Rp 15.300 per kilogram, sedangkan harga minyak goreng curah kualitas kedua Rp 12.700 per kilogram.
Hingga saat ini, ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga tersebut. Namun diperkirakan, hal itu akibat pengaruh cuaca yang menyebabkan sejumlah perjalanan kapal pengangkut minyak goreng dari luar Jawa terhambat.
Menurut dia, harga minyak goreng yang ada saat ini tergolong tidak wajar. Harga tersebut sangat tinggi dan membebani konsumen. Akibatnya, penjualan minyak goreng di pasaran lesu.
Hartanto mengaku mengalami penurunan penjualan hingga sekitar 50 persen. Sebelumnya ia mampu menjual sekitar 200 hingga 300 ton minyak goreng per hari, namun saat ini hanya sekitar 140 ton. Sebagian besar masyarakat juga cenderung memilih menggunakan minyak goreng curah kualitas kedua.
Menurut dia, meskipun harganya terus naik, saat ini pasokan minyak goreng curah masih aman. Diperkirakan harga minyak goreng akan kembali turun.
Asikin (35), pedagang sembako di Pasar Pagi Kota Tegal mengatakan, saat ini harga eceran minyak goren curah kualitas pertama mencapai Rp 13.800 per kilogram, sedangkan minyak goreng curah kualits kedua Rp 13.300 per kilogram.
Menurut dia, kenaikan harga yang terjadi terus-menerus sangat menyulitkan pedagang. Ia harus rajin menanyakan harga kepada distributor, agar usahanya tidak merugi. Bahkan kemarin, kenaikan harga mencapai tiga kali dalam sehari.
Asikin mengaku mengalami penurunan penjualan minyak goreng curah hingga mencapai 50 persen. Sebagian besar konsumennya saat ini beralih mengonsumsi minyak goreng dalam kemasan.
Permintaan minyak goreng dalam kemasan naik hingga 60 persen. Namun, pasokan jenis minyak goreng tersebut sulit diperoleh. Ia mengaku sudah memesan salah satu merek minyak goreng dalam kemasan sejak lima hari lalu. Namun hingga saat ini belum diperoleh.
Siswanto (27), pedagang sembako lainnya mengatakan, saat ini pasokan minyak goreng dalam kemasan memang semakin sulit diperoleh. Padahal, permintaannya naik hingga tiga kali lipat. Selain itu, harga minyak goreng dalam kemasan juga ikut naik, hingga sekitar 12 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang